Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dewi Sekar Rumpoko, Mahasiswa Kehutanan UGM Meninggal Dunia jelang Wisuda, Jono dan Ngadinah Terharu Wakili Putrinya Diwisuda

Fahmi Fahriza • Kamis, 22 Februari 2024 | 14:00 WIB

 

HARU DAN BANGGA: Jono dan Ngadinah, menggantikan almarhum anak mereka, Dewi Sekar Rumpoko, yang menjadi wisudawati dari Fakultas Kehutanan UGM, di Graha Sabha Pramana, (21/2).
HARU DAN BANGGA: Jono dan Ngadinah, menggantikan almarhum anak mereka, Dewi Sekar Rumpoko, yang menjadi wisudawati dari Fakultas Kehutanan UGM, di Graha Sabha Pramana, (21/2).

RADAR JOGJA - Suasana haru menyelimuti prosesi wisuda Universitas Gadjah Mada (UGM) program sarjana dan sarjana terapan periode II TA 2023/2024, kemarin (21/2). Ada wisudawati yang diwakili orangtuanya karena meninggal dunia jelang prosesi wisuda.

FAHMI FAHRIZA, Jogja


Wisudawati tersebut adalah Dewi Sekar Rumpoko mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2019. Perempuan asal Panggungharjo, Sewon, Bantul tersebut berpulang pada 26 Januari lalu setelah sebelumnya mengalami kecelakaan ketika hendak sidang skripsi. Dewi sempat dirawat secara intensif setidaknya satu bulan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Kedua orangtua Dewi, Jono dan Ngadinah hadir secara langsung dalam prosesi wisuda tersebut menggantikan sang anak. Ngadinah tak kuasa menahan air mata saat nama sang anak dipanggil di mimbar wisuda."Semoga anak saya tenang dan bahagia di sana. Perjuangan dia selama bertahun-tahun kuliah dan berhasil menjadi sarjana membuat saya sangat bangga," kata Ngadinah sembari memegang foto si buah hati.


Ngadinah berujar, Dewi merupakan anak yang sangat periang dan ceria. Dewi adalah sosok anak yang membanggakan. Sejak kecil selalu berprestasi dan langganan mendapatkan rangking sejak SD hingga SMA.”Kehilangan Dewi rasanya seperti kehilangan separuh nyawa, rumah jadi sepi, semua orang nangis dan putus asa," kenangnya.


Ngadinah juga mengungkapkan tentang besarnya ambisi dan kegigihan Dewi yang tetap berusaha menyelesaikan skripsinya sampai selesai. Bahkan dalam kondisi sakit pasca kecelakaan."Ketika dia sakit setelah kecelakaan, yang dicari pokoknya selalu laptop dan hape (ponsel, Red) untuk meneruskan skripsi nya," tuturnya.


Selain orangtuanya, sepeninggal Dewi juga menyisakan kesedihan bagi adik perempuannya yang saat ini duduk di kelas 2 SMA dan seorang kakak laki-laki.


Jono mengungkapkan bahwa sebagai anak Dewi juga sangat membanggakan. Dewi pernah berujar setelah menyelesaikan S1 nya dia ingin segera mencari kerja dan juga berkeinginan melanjutkan S2.


Jono juga mengapresiasi keinginan Dewi yang mengatakan ingin membantu biaya pendidikan sang adik dan membantu meringankan hutang sang bapak."Cita-cita dia mau kerja di Perhutani dan mau S2 juga dengan biaya sendiri. Dia tidak mau merepotkan orangtua," papar Jono.


Sebagai orangtua, Jono merasa terpukul dan sangat kehilangan sang putrid. Jono sendiri mengaku cukup sering mengingatkan Dewi untuk membagi porsi belajar dan istirahatnya. Dekan Fakultas Kehutanan UGM Sigit Sunarta juga mengucapkan duka cita mendalam atas meninggalnya salah satu mahasiswi di fakultasnya tersebut.Sigit menyebut, dari segi akademik Dewi merupakan mahasiswi yang cukup berprestasi. Salah satu indikatornya tercermin dari IPK Dewi yang cukup tinggi, yakni 3,8.


Sigit juga menjelaskan tema yang diambil Dewi dalam skripsinya sangat penting dan bisa berguna bagi masyarakat. Utamanya adalah masyarakat yang berkonflik dengan satwa liar di tepi hutan. Dewi dibimbing Dr Ali Imron mengembangkan bioakustik di mana nanti antara satwa liar dan juga manusia itu diharapkan tidak akan bertemu."Hasil penelitian Dewi ini sangat berguna bagi masyarakat kehutanan, terutama untuk meminimalisasi konflik manusia dan satwa," bebernya.

Sigit juga mencanangkan, hasil penelitian skripsi Dewi akan ditulis ulang dan akan diunggah ke jurnal. Hal tersebut diakuinya penting sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada Dewi.
"Kami sedang berdiskusi, sebagai penghargaan kita tulis ulang. Lalu disummit ke jurnal. Saya pikir itu dampak yang bagus juga bagi masyarakat," tutupnya (din).

Editor : Satria Pradika
#UGM #Bantul #program sarjana