Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

HB X Resmikan Masjid Quwwatul Islam, Representasi Perpaduan Budaya Banjar dan Jogja

Winda Atika Ira Puspita • Rabu, 11 Oktober 2023 | 15:15 WIB

PERSAUDARAAN: Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menerima Cinderamata dari Pemprov Kalimantan Selatan usai Peresmian Masjid Quwwatul Islam Jogjakarta Selasa (10/10).Winda Atika Ira P / Radar Jogja
PERSAUDARAAN: Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menerima Cinderamata dari Pemprov Kalimantan Selatan usai Peresmian Masjid Quwwatul Islam Jogjakarta Selasa (10/10).Winda Atika Ira P / Radar Jogja
 

RADAR JOGJA - Bangunan Masjid Quwwatul Islam di timur kantor Gubernur DIJ Kepatihan punya sejarah panjang. Yaitu hubungan antara Jogjakarta dengan Banjar di Kalimantan Selatan. Merupakan bangunan yang diberikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk warga Banjar. Awalnya pun bernama Langgar Kalimantani.

WINDA ATIKA IRA P, JOGJA 

Masjid Quwwatul Islam Jogjakarta diresmikan Selasa (10/10). Masjid yang terletak di Jalan Mataram No.1, Suryatmajan, Danurejan, Jogja itu mencerminkan semangat persatuan, kerja sama, dan hubungan baik antara warga Banjar dengan DIJ.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mengatakan, Masjid Quwwatul Islam Jogja ini meskipun berakar dari warga Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan namun terbuka untuk seluruh warga masyarakat DIY. Dan menjadi tempat beribadah serta mempererat tali silaturahim umat islam di Jogja dan sekitarnya.

"Sejarah panjang pembangunan masjid ini mencerminkan semangat persatuan dan kerjasama dari warga Banjar dan hubungan baik dengan keluarga Sultan Jogja," katanya disela peresmian Masjid Quwwatul Islam Jogjakarta.

HB X menjelaskan tanah yang digunakan masjid tersebut dahulu diberikan oleh Sri Sultan HB IX. Dari awal, masyarakat Banjar yang berada di Jogja mengajukan permohonan untuk pembangunan masjid kala itu. Menurut dia, dari sebuah langgar bernama Langgar Kalimantani hingga menjadi masjid merupakan proses panjang. “Perjalanan ini mengandung makna kebersamaan yang patut kita apresiasi," ujarnya.

Raja Keraton itu melanjutkan, arsitektur Masjid Quwwatul Islam Jogjakarta yang memadukan unsur Islam, corak Kalimantan Selatan, dan budaya Jogjakarta adalah bukti konkret dari keberagaman budaya yang memperkaya bangsa ini.

Bentuk atap masjid yang menyerupai Masjid Sultan Suriansyah di Banjarmasin. Serta menara golong gilig yang kental dengan budaya Jogjakarta. “Itu adalah wujud dari kekayaan seni dan keindahan yang patut dibanggakan," jelasnya.

Dengan peresemian tersebut diharapkan masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan-kegiatan produktif yang akan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terlebih, di kompleks masjid tersebut juga tersedia stan-stan para UMKM yang menjajakkan produknya.

Staf Ahli Gubernur Kalimantan Selatan Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik Sulkan meyakini pembangunan masjid ini merupakan bukti kecintaan masyarakat khususnya masyarakat Banjar yang ada di Jogjakarta kepada masjid.

Pun setidaknya ada tiga aspek dalam pemeliharaan dan pengelolaan masjid yang harus saling mendukung yaitu manajemen, pengelolaan program, dan pengelolaan fisik arsitektur masjid.

Baca Juga: Otoritas Palestina (PA) Mengutuk Serangan Israel di Tepi Barat dan Merayakan Yom Kippur di Masjid Al Aqsa

Keberadaan masjid sebagai tempat ibadah umat Islam, kata dia, memiliki peran strategis dalam menumbuh kembangkan peradaban umat. Dia pun berharap hendaknya masjid ini dapat dijadikan sebagai tempat menanamkan nilai-nilai kebajikan dan kemaslahatan umat manusia. “Memakmurkan masjid ini dengan kegiatan yang bernuansa keagamaan seperti salat, zikir, dan kegiatan membaca Alquran,” katanya.

Ketua Pembina Yayasan Quwwatul Islam Djunaidi menambahkan, Masjid Quwwatul Islam Jogja dahulu berupa musala kemudian berubah bentuk menjadi masjid pada 1963 dengan nama Quwwatul Islam. "Perubahan tersebut seiring ketulusan rasa persaudaraan dari kita dan bimbingan arahan dari Ngarsa Dalem terhadap orang-orang Banjar yang ada di Jogja, berdirilah masjid ini di atas tanah kekancingan," katanya.

Pembangunan kembali masjid tersebut, dimulai tahun 2015 dengan pondasi sedalam 30 meter persegi. Dan dapat dirampungkan pembangunannya pada 2020 lalu dengan anggaran sejumlah Rp 15 miliar. "Pembangunan masjid ini menegaskan percampuran budaya Jogjakarta dan Kalimantan Selatan," tambahnya.

Ketua Panitia Pembangunan Masjid Quwwatul Islam Jogjakarta itu melanjutkan, dimana ada empat tiang masjid dibuat khas budaya Jogjakarta merupakan tiang utama. Sementara atap kubah masjid dibuat khas masyarakat Banjar.
Masjid Quwwatul Islam Jogjakarta terdiri dari lima lantai dengan beberapa fasilitas dan ruang. Seperti basement untuk parkir, ruang salat utama, ruang sholat wanita dan anak anak maupun TPA, mimbar, gerai penjualan buku agama dan perlengkapan muslim serta fasilitas lainnya. (pra)

Editor : Satria Pradika
#Masjid Sultan Suriansyah #gubernur dij #Masjid Quwwatul Islam