RADAR JOGJA - Penetapan kawasan sumbu filosofi Jogja sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO menjadikan branding Jogja sebagai kota destinasi wisata semakin kuat. Namun, dua faktor lain masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus dibenahi, agar bisa mendongkrak okupansi dan kunjungan wisatawan ke DIJ.
"Faktor-faktor lain sangat mendukung, misalnya direct flight langsung dari luar negeri ke YIA (Yogyakarta International Airport). Kedua, masalah sampah harus kita selesaikan bersama," ujar Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Deddy Eryono Pranowo Kamis (21/9/23).
Deddy menjelaskan, dua faktor itu yang menonjol dan mengganjal untuk mendongkrak kunjungan wisatawan. Tingkat hunian hotel menurun sejak Agustus hingga September ini. Diperinci, okupansi dari Juni 75-80 persen, Juli 80 persen, dan Agustus berangsur turun rata-rata menjadi 50-60 persen. Memasuki September tinggal 50,8 persen.
"Kita berharap nanti Oktober okupansi bisa meningkat dengan adanya predikat itu. Kita jangan terlena dengan predikat itu, tapi harus berbenah diri. Masalah sampah juga mengganggu wisatawan yang jalan-jalan di Jogjakarta," ujarnya.
Deddy menyebut keluhan langsung ada yang masuk dari wisatawan, terutama dari turis asing. Mereka kebanyakan menanyakan soal sampah. Sebab, ketika berkeliling kota menjumpai sampah berserakan di pinggir jalan yang membuat tidak nyaman ketika berjalan kaki.
Terutama keluhan sampah ini berada di pusat-pusat kota seperti seputaran Prawirotaman, Jalan Parangtritis, Jalan Brigjen Katamso, bahkan di pinggiran jalan wilayah Sleman. "Hal itu tidak membikin nyaman mereka, karena wisatawan asing sukanya jalan kaki," jelasnya.
Kendati begitu, PHRI masih optimistis bisa mengejar okupansi tersebut dengan adanya penetapan itu. Setidaknya kembali bangkit untuk mempromosikan destinasi pariwisata di DIJ. "Karena kita sudah mempunyai warisan dunia seperti Borobudur, Prambanan, ditambah sumbu filosofi menjadikan branding kita semakin kuat," terangnya.
Faktor lain juga perlu dibenahi yakni meningkatkan lagi volume jumlah penerbangan baik domestik maupun direct flight atau penerbangan langsung dari luar negeri. Seperti turis dari Korea Utara menginginkan penerbangan langsung ke Jogja, bukan ke Bali. Turis Australia juga berkeinginan sama. "Pemprov DIJ kami harapkan meminta pusat untuk direct flight," tambahnya.
Menurutnya, saat ini direct flight ke Bandara YIA dari luar negeri baru rute penerbangan internasional Singapura (SIN) dan Malaysia (KL). Tidak menutup kemungkinan Australia bisa ditawarkan dan sedang diusahakan.
"Padahal bandara kita sudah memenuhi syarat semua. Saya kira dua faktor itu yang harus kita benahi bersama untuk mendukung predikat kita yang bertambah mendapat pengakuan dunia sumbu filosofinya," tambah Deddy.
Meski direct flight luar negeri baru Malaysia dan Singapura, turis dari Eropa dan Australia berkunjung ke DIJ melalui Jakarta dan Bali. Sebagian dari Malaysia yang berwisata di Negeri Jiran itu kemudian datang ke Jogja. Secara okupansi memang belum terlihat secara merata, namun kunjungan wisatawan asing disebut sudah ada progress.
Sementara untuk wisatawan domestik kebanyakan dari Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. "Kunjungan wisatawan asing sudah menggeliat, tapi bicara okupansi secara merata belum, tapi sudah ada progres. Persentase sedikit, nggak sebanding sebelum pandemi tapi sudah ada pergerakan. Kita masih bersyukur," ucapnya.
Diyakini Tingkatkan Perekonomian DIJ
Terpisah, Asisten Sekprov DIJ Bidang Perekonomian dan Pembangunan Tri Saktiyana mengatakan, pasca penetapan sumbu filosofi sebagai warisan budaya dunia diyakini semakin meningkatkan pengetahuan publik, yang selanjutnya berdampak pada perekonomian DIJ. Dengan titel warisan budaya dunia, memiliki dampak positif yang bersifat multiefek.
Tri menjelaskan, ada kecenderungan yang terjadi bahwa saat ini masyarakat menikmati sebuah objek tidak didasari oleh benda semata, namun nilai historis juga jadi aspek penting yang dicari. "Orang sekarang beli pengalaman, dan sumbu filosofi itu bukanlah sebuah benda, tapi cerita di baliknya yang dihargai UNESCO," katanya Kamis (21/9/23).
Dikatakan, entitas sumbu filosofi harus bisa dioptimalkan untuk dapat menunjang sektor perekonomian lewat beberapa aspek, mulai pariwisata yang nantinya bersinergi dengan kuliner hingga hunian hotel. "Orang sekarang cari history, misalnya Tugu Jogja itu kan kecil. Banyak bangunan lain yang lebih besar, tapi history itu yang dicari orang-orang," paparnya.
Tri juga menyarankan kepada masyarakat untuk menyiapkan diri karena mereka memiliki peran penting untuk dapat meningkatkan perekonomian DIJ melalui berbagai inovasi. Mulai dari pengelolaan desa wisata, pengenalan potensi budaya hingga UMKM lokal. "History sumbu filosofi itu kan akhirnya jadi gaya hidup yang membuat orang ingin datang. Masyarakat DIJ juga harus siap," sebutnya.
Daerah-daerah sekitar yang bersinggungan dengan kawasan sumbu filosofi juga perlu disiapkan untuk menggaet potensi wisatawan agar mau mengunjungi DIJ. "Misalnya kawasan Kali Code dan Winongo di barat dan timur, itu juga penting untuk mendukung kawasan sumbu filosofi," tuturnya.
Ia mengaku pengoptimalan potensi itu harus dilakukan secara kolektif oleh seluruh elemen dan membutuhkan waktu dalam pelaksanaannya. "Tentu tidak bisa satu dua hari, tapi ya semuanya harus siap dan mengoptimalkan ini," tandasnya. (wia/iza/laz)