RADAR JOGJA - Ragam seni rupa dengan objek utama batik memenuhi ruang kosong di Loka Budaya Soekimin Adiwiratmoko, Kota Magelang. Sedikitnya 20 seniman ikut meramaikan pameran bertajuk "Batas Titik" itu. Karya-karya mereka menyuguhkan refleksi soal keragaman batik. Beberapa di antaranya disulap menjadi lukisan.
Sejumlah kain batik pun disusun rapi. Ditumpuk satu sama lain dan menjulur di lantai. Ada juga yang dibiarkan menggantung di dinding. Kesan tradisional dari batik-batik itu seolah menyatu dengan ruang. Sunyi menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk memaknai tiap seni rupa. Dari satu karya ke karya lain.
Dari sekitar 50 karya yang ditampilkan, banyak mata tertuju pada satu objek. Adalah potret Soimah, penyanyi, ahli dalam bidang kesenian Jawa dan pembawa acara kondang kenamaan Indonesia. Ia mengenakan kebaya dengan aksen daun berwarna coklat dan kebaya bermotif parang. Apalagi ditambah seekor kupu-kupu di pundaknya.
Potret Soimah itu dilukis oleh seorang seniman asal Borobudur Nurfuad. Dia menilai, Soimah memiliki karakter yang bagus. Meski saat ini ia sudah berada di titik tertinggi dalam kariernya, Soimah tidak lantas melupakan budaya Jawa. "Ini yang saya kagumi. Dia punya rasa cinta kasih terhadap keluarganya," jelasnya (20/9).
Selain itu, Nurfuad memandang Soimah juga menjadi ibu yang baik. Ia memiliki tanggung jawab atas anak-anaknya. Dari lukisan yang dinamai "Surgamu Ada Padaku Nak", Nurfuad menambahkan kupu-kupu yang diibaratkan sebagai seorang anak. Dengan kata lain, orang tua mempunyai tanggung jawab untuk mendidik anak agar terus berbakti kepadanya, agama, dan masyarakat.
Dalam setiap goresannya, Nurfuad menggunakan daun jati untuk membentuk satu lukisan yang apik. Termasuk pada potret Soimah. Sebab, menurutnya, daun jati sebagai sebuah karakter yang tidak bisa diubah. Karena kesejatian itu hanya milik Tuhan Yang Maha Esa. Untuk batiknya, Nurfuad menggunakan motif parang yang biasa dikenakan orang-orang kerajaan.
Selain potret Soimah, Nurfuad juga melukis "Langit di atas Water Toren". Di lukisan itu, ada ikon Kota Magelang, yakni Water Toren. Ditambah kumpulan daun berwarna-warni yang dibuat seolah-olah menggantung. Jumlahnya ada lima. Di dalamnya terdapat lilin.
Lukisan itu, lanjut dia, melambangkan keanekaragaman. Terlebih, di pusat Kota Magelang ada lima tempat ibadah yang berbeda-beda. "Dengan adanya berbagai macam perbedaan ini, kita bisa saling support karena masih dalam satu cahaya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa," paparnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Kota Magelang Muhammad Nafi menyebut, "Batas Titik" diambil dari akronim batik. Pameran ini sebetulnya telah melalui proses yang panjang karena ada workshop membatik. Bahkan, hampir sebagian besar pelukisnya belum pernah mengalami proses melukis dengan teknik batik. "Baru kali ini," sebutnya.
Hal itulah yang membuat seni rupa semakin beragam. Dia berharap, pameran ini menjadi wujud generasi muda sekarang untuk terus melestarikan teknik batik. Yang mana batik merupakan warisan leluhur sehingga perlu diuri-uri.
Dosen Program Studi Batik dan Fashion, Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Bayu Aria Widhi Kristanto menuturkan, pameran ini menjadi suatu hal yang menggembirakan. Karena seni batik lukis masih jarang ditemui. "Audiensi dan karya-karyanya menarik. Sebagai tanda ini loh batik lukis yang lama tidak muncul," ujarnya.
Dia menyebut, seni rupa batik lukis sangat potensial untuk dikembangkan. Apalagi sekarang banyak seniman muda yang tertarik untuk bergelut di bidang seni rupa. Gagasan dan ide mereka justru lebih luas. Sebab, seni rupa batik lukis cenderung mati suri. Jarang yang melestarikannya.
"Batas Tilik" ini, lanjutnya, dinilai menjadi sesuatu yang menyeimbangkan iklim seni rupa sekarang. "Harapannya ke depan, peminat seni batik lukis ini lebih banyak. Komunitasnya berkembang, nggak harus di Magelang," tambahnya. (laz)