RADAR JOGJA - Polresta Jogja membekuk komplotan penyalahgunaan penimbunan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis pertalite. Ada tujuh pelaku yang ditangkap dengan keuntungannya sebulan mencapai Rp 11 juta. Ketujuh pelaku memiliki peran masing-masing dan berbeda.
Kasat Reskrim Polresta Jogja AKP Archye Nevada mengatakan, kasus ini terungkap dari informasi masyarakat. Penyalahgunaan pertalite ini diedarkan dan dijual tanpa memiliki izin. Pelaku pertama yang ditangkap adalah IP di Gondokusuman, Kota Jogja, saat sedang membawa jeriken isi pertalite.
"Rencananya diedarkan di beberapa toko-toko pertamini di Jogja dan Sleman untuk diperjualbelikan," katanya kepada wartawan di Mapolresta Jogja, Rabu (20/9/23). Polisi lalu melakukan pendalaman hingga ditemukan lokasi tempat penimbunan pertalite. Barang bukti pertalite ditempatkan di sebuah kos yang disewa di Sleman untuk ditimbun.
Aksi komplotan ini sudah dilakukan sejak awal 2023 dengan keuntungan bersih rata-rata sebulan mencapai Rp 11 juta. Setiap hari para pelaku membeli 800 liter pertalite. Selain IP, pelaku lain adalah AD, BD, SF, DY, HJ, dan SG.
Pelaku AD dan BD berperan sebagai pemodal yang membeli pertalite. "Sementara sisanya merupakan karyawannya yang mendapat gaji sekitar Rp 2 juta sebulan," tambah Archye.
Lima orang karyawan berperan membeli pertalite dan mengedarkannya ke Jogja dan Sleman. Ada delapan motor yang disita sebagai barang bukti. Jenis motornya Vario dan Thunder yang sudah dimodifikasi. Motor vario dimodifikasi agar dapat mengangkut jeriken, sedangkan Thunder dimodifikasi bagian tangki agar bisa menampung lebih banyak pertalite menjadi 15 liter, lalu disedot ketika sudah di kos tempat penimbunan.
Polisi juga menyita 36 jeriken yang masih terisi pertalite, yang masing-masing bisa memuat 35 liter pertalite. Modusnya, mereka membeli dengan motor yang sudah dimodifikasi dan membawa jeriken. Di SPBU petugasnya diberkan tip Rp 2 ribu untuk sekali pembelian. Harga perliter yang dijual pelaku per liter Rp 13 ribu. SPBU yang sering dijadikan tempat pembelian mayoritas berada di wilayah Sleman.
"Keterlibatan petugas SPBU ada tip yang diberikan masih didalami. Jadi terus dilakukan pengembangan," ucap Archye. Para komplotan ini satu kelompok yang saling kenal. Saat membeli pertalite para pelaku beraksi saat malam hari dan melihat situasi dan kondisi.
Archye menambahkan, saat mengedarkan juga saat malam hari. Perihal keterkaitan pertamini, Archye mengaku masih akan melakukan pendalaman terlebih dahulu. Namun, bukan hal yang tidak mungkin nanti ada pelaku yang baru. (rul/laz)