RADAR JOGJA - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jogja menyebut, pembukaan TPST Piyungan tidak berhenti menyelesaikan masalah sampah di DIJ. "Pembukaan belum jadi solusi menyelesaikan, karena akan ditutup lagi jika tata pengelolaan sampah di Jogja tidak ada perubahan," kata Deputi Direktur Walhi Jogja Dimas Perdana kepada Radar Jogja Minggu (3/9/23).
Dia mengaku, sudah memberikan rekomendasi kebijakan ke Pemprov DIJ. Rekomendasi di antaranya soal kebijakan pembuatan fasilitas, mulai dari hulu hingga hilir, dan optimalisasi Tempat Pengelolaan Sampah Reuse-Reduce-Recycle (TPS3R) di Jogja.
Dari data yang dimiliki Walhi, ada sekitar 60 TPS3R yang tersebar di wilayah DIJ. Semua rata-rata dikelola dengan biaya dari pemerintah. "Data kami menunjukkan baru 10 persen saja yang optimal dari seluruh TPS3R. Padahal itu kunci pengolahan sampah," tambahnya.
Selain itu, sektor bisnis pariwisata juga direkomendasikan Walhi agar mengolah sampahnya secara baik. Ia menilai, dampak penutupan TPST Piyungan sebelumnya, banyak pemerintah daerah di DIJ hanya solusi jangka pendek. Pembukaan lahan baru atau peluasan TPST Piyunyan merupakan solusi jangka pendek.
Dimas mengingatkan, jangan sampai paradigma pemerintah hanya memindahkan sampah dengan lahan baru. Tetapi, harus berbicara tentang paradigma tata kelola. "Paradigma sampah itu bukan sekadar kumpul, ambil, angkut, buang. Tetapi ada pengelolaannya di setiap titik-titiknya," ucapnya.
Dimas mengatakan, jika TPST Piyungan dibuka lagi tapi belum ada langkah pasti mau melakukan, akhirnya dibuang lagi ke TPST Piyungan, menumpuk lagi dan akhirnya ditutup lagi. Dia menegaskan, permasalahan sampah sumber utamanya bukan perihal perilaku masyarakat.
Baca Juga: Sleman Andalkan TPST Piyungan Lagi
Menurutnya, permasalahan sampah di DIJ merupakan persoalan struktural antarpihak yang tidak bisa diparsialkan. "Hari ini kan optimalisasi infrastrukturnya yang memfasilitasi masyarakat untuk melakukan pemilahan itu belum ada. Rata-rata masyarakat malah inisiatif secara mandiri melakukan pengelolaan sampah," tegasnya.
Dimas mencontohkan di Panggungharjo sudah inisiatif melakukan pengolahan sampah. Menurutnya, selama ini yang belum dicek, dievaluasi adalah pengolahan sampah pada sektor bisnis pariwisata. Dia menegaskan, pemerintah jangan hanya menyalahkan perilaku masyarakat saja untuk mengurus sampah. (cr3/laz)
Editor : Satria Pradika