Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ratu Mangkubumi, Perempuan Tangguh Ahli Strategi

Kusno S Utomo • Sabtu, 5 Agustus 2023 | 13:00 WIB
Cerbung Oleh Kusno S Utomo
Cerbung Oleh Kusno S Utomo

RADAR JOGJA - Ratu Mangkubumi di masa mudanya bernama Mas Rara Juwati. Dia lahir di Dusun Madjan, sekarang dinamakan Majangjati, Sragen, Surakarta. Tahun kelahirannnya sekitar 1734. Juwati berasal dari keluarga santri. Orang tuanya Ki Ageng Derpoyuda merupakan ulama di daerah tersebut. Dari garis ayah ada darah Makassar, Sulawesi Selatan. Sedangkan ibunya masih trah Sultan Bima di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.


Lantaran dari keluarga santri, Ratu Mangkubumi muda mendapatkan pendidikan agama yang kuat. Pembelajaran mengenai Islam didapat dari sastra lama (suluk) yang ditulis ulang dengan pengantar yang lebih tegas akan nilai spiritualnya di era Susuhunan Paku Buwono II. Salah satu tokohnya adalah permaisurinya, Kanjeng Ratu Paku Buwono. Ada tiga hal yang dikupas dalam suluk itu. Kewajiban salat Jumat dan dilarangnya judi serta madat.


Sebelum perang Diponegoro 1825-830, berkembang luas ajaran Islam beraliran tarekat. Terutama Syattariyah. Sastra yang berkembang sangat terasa nilai-nilai Syattariyah sebagaimana karya pujangga Keraton Kasunanan Surakarta Raden Ngabehi Ranggasasmita. Tak heran Ratu Mangkubumi termasuk orang yang mengikuti aliran tersebut.


Selama menjadi permaisuri Sultan Mangkubumi atau HB I dari 1755 hingga 1792, Ratu Mangkubumi diakui merupakan perempuan tangguh. Ratu Mangkubumi menjadi teman seperjuangan dan kawan diskusi suaminya dalam banyak hal. Sebagai pendamping atau garwa, dalam terminologi Jawa dinamakan sinegaring nyawa (separo nyawa suami, Red) Ratu Mangkubumi tampil demikian sempurna. Khususnya saat menghadapi masa-masa sulit. Berjuang dan berperang melawan Belanda sebelum Perjanjian Giyanti dari 1746-1755. Berpindah-pindah tempat dari satu lokasi ke tempat lainnya.


Putranya, Gusti Raden Mas (GRM) Sundara, lahir saat suaminya berkemah di Gunung Sindara di kawasan Kedu, Jawa Tengah. Selama perjuangan itu, Ratu Mangkubumi diterpa beragam pengalaman. Ratu Mangkubumi membuktikan sebagai perempuan yang tangguh dan ahli mengatur strategi.


Ketangkasannya saat ikut berperang menarik perhatian Pangeran Mangkubumi. Mas Rara Juwita kemudian dipilih sebagai istri utama sang pangeran. Dalam perkembangannya, Ratu Mangkubumi menjadi inisiator pembentukan detasemen pasukan khusus perempuan yang bernama Langenkusuma.


Eksistensi laskar Langenkusuma itu membuat terkesan Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels saat berkunjung ke Keraton Ngayogyakarta pada 1809. Daendels kagum dengan kemampuan pasukan perempuan. Mereka terampil menunggang kuda sambil membawa senapan. Unjuk kebolehan itu dipamerkan di Alun-Alun Selatan Keraton Ngayogyakarta.


Dilihat dari namanya, Langenkusuma berasal dari kata langen dan kusuma. Langen artinya senang dengan keindahan. Sedangkan kusuma artinya bunga atau trah yang luhur. Bukan hanya dalam soal perang. Ratu Mangkubumi juga ahli dalam hal kepemimpinan.


Itu dibuktikan saat suaminya bertakhta sebagai raja pertama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ratu Mangkubumi ini juga punya nama Ratu Kadipaten. Satu tahun setelah suaminya Sultan Mangkubumi wafat, pada 1793 Ratu Mangkubumi memutuskan keluar dari keraton. Ratu Mangkubumi bermukim di Tegalreja selama 10 tahun dari 1793 sampai dengan 1803.


Menjelang wafat, Ratu Mangkubumi kembali ke ndalem Kadipaten, tempat tinggal HB II semasa menjadi putra mahkota. Saat mendekati ajal, ibu suri yang kemudian dikenal dengan nama Ratu Ageng itu mengundang sejumlah putra-putranya.
Dia memberikan petuah agar anak-anaknya tidak bersikap sombong dan bertindak angkuh. Ketika dekat dengan kematian, meski seorang raja tetaplah hamba di mata Allah. Sikap ini menunjukkan karakter Ratu Mangkubumi yang teruji. Perempuan tegas. Kuat dalam memegang prinsip biarpun berhadapan dengan keluarganya sendiri. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Cerbung #Kusno S. Utomo #mataram #VOC