Sukadi bukan mahasiswa biasa. Dia mampu lulus denganpenuh perjuangan. Selain harus mengurusi bisnis peleburan baja, dia harus membagi waktu mengurus tiga istri dan 18 anaknya.
ANGGA PURENDA, Klaten
BARISAN para wisudawan sudah duduk di posisi masing-masing untuk mengikuti prosesi wisuda di salah satu hotel bintang tiga di Klaten, Selasa (25/7). Menariknya, dari puluhan wisudawan salah satu perguruan tinggi swasta di Klaten itu, ada seorang pria parobaya yang meraih gelar sarjana administrasi bisnis. Meski usianya sudah 56 tahun, tetapi semangat untuk kuliah tetap tinggi.
Nah, rupanya motivasi untuk merampungkan kuliah S1 ini datang dari tiga istri dan 18 anak tercinta. Bentuk dukungan itu dibuktikan dengan hadirnya ketiga istrinya di momen istimewa itu. Termasuk beberapa anak kandungnya juga datang sambil membawa buket bunga untuk diberikan kepada sang ayah seusai acara.
Sukadi menikah dengan istri pertama Tumiyem, 52, pada 1987 silam. Keduanya dikarunia enam anak. Kemudian, dia menikahi istri kedua yakni Agus Rianti pada 2001 setelah mendapatkan izin istri pertamanya. Dari pernikahan ini lahir lima anak.
Berlanjut pada 2003, Sukadi kembali menikah dengan istri ketiga yakni Ida Susilowati hingga dikaruniai tujuh anak. Total dia memiliki 18 anak dari tiga istri. Beberapa di antaranya telah menempuh pendidikan hingga S3 di Malaysia maupun universitas dalam negeri. Ada pula menantunya yang menempuh S3 di Jepang.
Saya mendapatkan dorongan dan semangat dari istri dan anak-anak agar kuliah S1. Sebenarnya sempat mau berhenti di tengah jalan. Tapi, dukungan dari anak-anak begitu kuat hingga akhirnya bisa menyelesaikan kuliah ini,” ujar Sukadi saat ditemui seusai acara wisuda di salah satu hotel di Kecamatan Klaten Tengah.
Dari usaha peleburan baja yang dijalani sejak 1986, Sukadi mampu menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang tinggi. Baik sekolah maupun kuliah di dalam maupun di luar negeri di berbagai jurusan.
Seusai memperoleh gelar sarjana itu, Sukadi tidak tertarik untuk melanjutkan ke jenjang S2. Bagi dia, pendidikan di perguruan tinggi sudah cukup ditempuh sampai jenjang sarjana. Dia ingin memberikan perhatian kepada anak-anaknya guna memastikan mereka mendapatkan pendidikan yang terbaik.
Saya mau mengurus anak-anak saja. Termasuk melanjutkan usaha. Biar anak-anak bisa sekolah yang tinggi,” ujar Sukadi yang sudah memiliki dua cucu ini.
Sekali pun memiliki keluarga besar, Sukadi selalu memberikan perhatian dan membagi waktunya untuk ketiga istri dan belasan anak kandungnya tersebut. Mereka hidup rukun dengan tinggal di tiga rumah berbeda dengan jarak antar rumah istrinya sekira 2-3 kilometer. Termasuk, melibatkan ketiga istrinya dalam menjalankan usaha peleburan baja di Kecamatan Cawas.
Saya yang mengizinkan agar suami menikah lagi. Bahkan awalnya saya yang mencarikan. Suami awalnya tidak mau menyakiti hati saya. Tetapi ternyata yang mau dinikahi maunya sama bapak (Sukadi). Ini mungkin sudah kodrat saya,” ucap Tumiyem.
Di sisi lain, dia pun mendukung suaminya menyelesaikan S1 di jurusan administrasi bisnis. Terlebih lagi tidak sampai menganggu usaha yang dijalankan selama ini. Apalagi membesarkan usaha secara bersama-sama.
“Selama ini kalau kerja ya bersama-sama. Nanti waktunya pulang ya ke rumah masing-masing. Tapi jaraknya saling berdekatan sekira 2 km antar rumah. Kalau ngumpul jadi satu ya pasti sangat ramai sekali,” ujar dia. (*/bun/ria)
Editor : Amin Surachmad