RADAR JOGJA - Sebagai city on the jelly atau kota di atas agar-agar, Bantul menjadi daerah rawan gempa. Mendorong terhadap mitigasi bencana, pemerintah terus membentuk desa-desa menjadi desa tangguh bencana (destana).
IWAN NURWANTO, Bantul
Masyarakat di Bantul makin sadar untuk terus meningkatkan kewaspadaan ketika sewaktu-waktu terjaid bencana, khususnya gempa bumi. Tak terkecuali bagi warga di Kalurahan Srihardono, Kapanewon Pundong, yang pada 2006 lalu menjadi pusat gempa (episentrum) Bantul dengan kekuatan 5,9 Skala Richter.
Lurah Srihardono Awaludin mengakui, pengalaman 17 tahun lalu masih sangat membekas bagi masyarakat di wilayahnya. Bagaimana tidak, berada di pusat gempa membuat wilayah ini menjadi titik yang paling terdampak. Hampir seluruh tempat tinggal warga di desa ini rata tanah.
"Saya akui Srihardono termasuk daerah rawan gempa, di mana gempa bumi merupakan bencana yang tidak bisa diprediksi," ujar Awaludin kepada Radar Jogja Minggu (9/7/23).
Meksipun demikian, menurut Awaludin, justru dengan pengalaman itu yang membuat masyarakat Srihardono tanggap dengan berbagai bentuk bencana. Tak terkecuali bencana gempa bumi yang sampai saat ini masih menghantui desa ini.
Sebagaimana diketahui, Kalurahan Srihardono merupakan salah satu wilayah yang berada di atas Sesar Opak. Kondisi ini membuat wilayah yang paling dekat dengan sesar ini memiliki risiko tinggi dan kemungkinan besar menjadi daerah paling terdampak ketika terjadi pergerakan patahan di lempeng bumi.
Awaludin menyatakan, dalam upaya kesiapsiagaan bencana di Srihardono, pihaknya selalu rutin melakukan berbagai kegiatan. Seperti refleksi gempa bumi yang selalu dilaksanakan tiap 27 Mei di Monumen Gempa Bumi Potrobayan. Serta dilaksanakan pelatihan kebencanaan.
Ia pun menyatakan, manajemen sumber daya manusia Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), juga terus diperkuat oleh pemerintah desa. Bahkan khusus untuk pelatihan kebencanaan di Kalurahan Srihardono rutin digelar setiap setahun sekali.
"Sejak usia dini kami pupuk kesiapsiagaan bencana. Di SD sudah ada kegiatan pelatihan tanggap bencana, entah itu banjir atau pun gempa," terang Awaludin. (laz)