Prabasuyasa yang telah dilantik ayahnya sebagai putra mahkota bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram memilih sebutan seperti kakeknya Susuhunan Paku Buwono I.
Raja muda itu menggunakan gelar Susuhunan Paku Buwono II. Saat naik takhta usianya masih di bawah 20 tahun. Tepatnya berumur 16 tahun. Paku Buwono II di awal-awal memerintah didampingi tiga orang. Pertama, ibundanya, Kanjeng Ratu Amangkurat, Pepatih Dalem Danureja, dan sang nenek Kanjeng Ratu Paku Buwono.
Ratu Amangkurat adalah permaisuri dari Amangkurat IV. Sedangkan Ratu Paku Buwono merupakan permaisuri Paku Buwono I. Di antara tiga orang itu, Ratu Paku Buwono memberikan pengaruh kuat dalam membentuk karakter pribadi sang raja. Sang nenek dikenal sebagai seorang sufi saleh. Pengaruh ini membuat Paku Buwono II tertarik mendalami agama Islam.
Raja ingin mempromosikan nilai-nilai Islam di kalangan istana dan rakyatnya. Kebijakan ini disambut gembira sang nenek. Ratu Paku Buwono kemudian berpikir cara melepaskan cucunya dari pengaruh Patih Danureja.
Maklum, Danureja yang sehari-hari lebih banyak beriteraksi dengan raja. Khususnya membahas soal-soal kenegaraan. Danureja termasuk pejabat yang punya pengaruh kuat di Istana Kartasura. Ini karena fungsi patih tak ubahnya seperti perdana menteri.
Sang nenek ingin Paku Buwono II menjadi raja yang sufi dan teladan. Dia memerintahkan pujangga keraton menulis ulang perjalanan spiritual Susuhunan Agung Hanyakrakusuma ke makam Tembayat, Klaten. Peristiwanya terjadi satu abad sebelumnya.
Permaisuri Paku Buwono I itu sukses menulis Carita Sultan Iskandar, Serat Yusup, dan Kitab Usulbiyah. Di Serat Iskandar dan Serat Yusup, Ibu Suri ini dilukiskan sebagai sosok berpengetahuan luas dan berpengaruh.
Di dalam serat itu, Ratu Paku Buwono berdoa semoga kepemimpinan cucunya, Paku Buwono II, langgeng. Menjadi penguasa dunia, kekuasaan besar, dan mendapatkan kelimpahan selama menjalankan pemerintahan Mataram. Juga dilindungi dan dicintai Allah serta rasulnya, Nabi Muhammad SAW.
Satu karya Ratu Paku Buwono yang sulit dilupakan adalah Serat Suluk Garwa Kencana (tembang rumah emas). Teks pendek itu ditulis pada 1730. Isinya seputar filsafat Kerajaan Jawa. Dia terinspirasi mistisisme sufi.
Dalam Serat Suluk Garwa, raja diperingatkan tidak terbuai duniawi dan puja-puji. Selalu ingat kepada Sang Agung (Allah) sebagai senjatamu. Iman yang teguh kepada Allah menjadi wahanamu. Raja berangkat perang dengan senjata mistisisme.
Kesalehan, zikir, dan Alquran sebagai senjatanya. Dengan demikian, raja akan mendapatkan jubah baru. Hakikat sebagai mahkotanya. Tarekat menjadi puncak mahkota dan sarengat (syariat) sebagai kainnya.
Ratu Paku Buwono mewakili gerakan islamisasi terkuat di Mataram pasca Susuhunan Agung Hanyakrakusuma. Gerakan itu cukup berhasil. Paku Buwono II terus menunjukkan komitmen terhadap kesalehan dan moralitas Islam.
Lawan terkuat dari faksi Islam ini adalah Patih Danureja. Setelah beberapa tahun memimpin, raja menyadari kondisi tersebut. Hubungannya dengan Danureja mulai renggang. Kewenangan Danureja sebagai patih perlahan tapi pasti mulai dipreteli. Paku Buwono II mulai membersihkan istana dari kroni Danureja.
Mutasi pejabat besar-besaran diadakan pada Januari 1730. Salah satu orang kesayangan Danureja bernama KRT Nitinegoro dicopot dari jabatannya. Dia digantikan Tirtawiguna. Musuh bebuyutan Danureja. Sejak itu, Danureja tidak lagi bersemangat. Merasa tak lagi dipercaya raja. Dia merasa sudah kehilangan banyak pendukung. Merasa galau, Danureja mengajukan pengunduran diri pada September 1730.
Pernyataan mundur Danureja itu membuat istana Kartasura gaduh. Beredar informasi Dewan Hindia akan mendatangkan Pangeran Mangkunegara dari pengasingannya di Afrika Selatan. Kakak Paku Buwono II itu hendak dinobatkan sebagai raja Mataram.
Menanggapi isu itu, Residen Semarang Julius Coyette turun tangan. Dia menilai isu itu sebagai manuver Danureja. Sengaja dilontarkan demi memperpanjang usia sang patih di panggung politik. Dewan Hindia terbukti tak pernah memulangkan Mangkunegara dari pengasingan. Mangkunegara juga tidak pernah diangkat menjadi raja.
Dalam perjalanannya, karir politik Danureja benar-benar tamat pada 9 Juli 1733. Dia ditangkap atas perintah Paku Buwono II saat berkunjung ke Loji VOC di Semarang. KemudianDanureja dibuang ke Afrika Selatan.
Lokasinya sama dengan Pangeran Mangkunegara menjalani masa pengasingan. Kedua bangsawan Mataram yang berseberangan itu sama-sama tutup usia di negeri seberang. Sama-sama berstatus sebagai tahanan politik. (laz)