MAGELANG - Batik tidak harus dipotong dan dijahit untuk menjadi busana. Selembar kain bisa diubah menjadi beragam gaya hanya dengan dilipat, dililit, dan ditata sesuai kreativitas pemakainya.
Konsep itulah yang diperkenalkan melalui teknik Main Kain. Cara ini menawarkan alternatif mengenakan wastra Nusantara yang lebih fleksibel sekaligus berpotensi membuat batik lebih dekat dengan generasi muda.
Fesyen desainer asal Magelang Tatok Prihasmanto mengatakan, peserta diajak melihat kain dari sudut pandang berbeda. Kain tidak selalu harus diubah bentuknya agar dapat dikenakan sebagai busana.
Baca Juga: Gandeng Universitas Janabadra, PSIM Jogja Bakal Bangun Training Ground Berstandar FIFA di Sleman
Dalam praktiknya, peserta mencoba berbagai teknik penataan kain dengan bantuan model. Satu lembar kain dapat menghasilkan tampilan berbeda, bergantung pada cara melilit dan menatanya. “Teknik sederhana tersebut memungkinkan satu kain memiliki tampilan berbeda sesuai kreativitas pemakainya,” kata Tatok Rabu (7/10).
Menurut Tatok, pendekatan tersebut juga dapat memperluas cara masyarakat mengenakan wastra Nusantara. Batik, tenun, ikat, hingga songket tidak hanya dipandang sebagai bahan pakaian, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang memiliki cerita dan filosofi.
“Di balik selembar kain terdapat jejak peradaban, nilai filosofis, serta ketekunan para pembuatnya,” ujarnya.
Baca Juga: Legenda Brasil Berikan Penghormatan untuk Lionel Messi saat ia Pensiun dari Sepak Bola Internasional
Sekretaris Dekranasda Kota Magelang Hetty Kusumawati mengatakan, pelestarian batik tidak harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan mengenakan hingga membeli produk karya perajin dalam negeri menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan wastra Nusantara.
Masyarakat juga didorong ikut mempromosikan produk batik buatan perajin lokal agar semakin dikenal dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. “Marilah mulai dari hal sederhana yakni dengan mencintai, mengenakan, membeli dan mempromosikan produk batik karya anak bangsa,” kata Hetty. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita