MUNGKID - Balai Taman Nasional (TN) Gunung Merbabu memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat di jalur pendakian dan kawasan wisata alam.
Sebanyak 154 unit peralatan Search and Rescue (SAR) diterima dari Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Kehutanan dengan total Rp 470.501.899.
Kepala Balai TN Gunung Merbabu Anggit Haryoso menuturkan, tambahan peralatan tersebut dinilai penting seiring meningkatnya aktivitas wisata berbasis petualangan di kawasan konservasi.
Baca Juga: Dua SPPG di Gunungkidul Belum Kantongi SLHS, Belum Beroperasi Layani MBG
Sebanyak 154 unit peralatan tersebut mencakup perlengkapan untuk pencarian, komunikasi, pertolongan, hingga evakuasi.
Di antaranya tandu, handy talky (HT), pulse oximeter, helm, headlamp, body harness, pulley, ascender, dan descender. Kemudian, tali karmantel, prusik, carabiner, anchor strap, serta perlengkapan pendukung high-angle rescue.
Peralatan itu, kata dia, akan digunakan untuk memperkuat kemampuan Tim Reaksi Cepat yang terdiri atas personel Balai TN Gunung Merbabu bersama para mitra. "Tim itu disiapkan menghadapi keadaan darurat, baik di jalur pendakian maupun lokasi lain yang menjadi tempat aktivitas wisata alam," paparnya, Selasa (8/9).
Baca Juga: HB X Minta Pengelola MBG Perketat Penyimpanan Bahan Makanan untuk Cegah Keracunan
Dia menambahkan, aspek keselamatan menjadi satu tantangan penting dalam pengembangan wisata alam. Penambahan peralatan diharapkan membuat petugas lebih siap ketika harus memberikan pertolongan dan melakukan evakuasi.
Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan, Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan, Nunu Anugrah mengutarakan, penambahan peralatan SAR menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem keselamatan di TN Gunung Merbabu. Sebab aktivitas pendakian maupun olahraga petualangan berlangsung di lingkungan dengan karakter alam yang dinamis.
Dia pun mengingatkan pendaki, pelari, dan penggiat alam bebas agar tidak hanya mengandalkan keberadaan tim penyelamat ketika terjadi keadaan darurat. "Persiapan sebelum memasuki kawasan tetap menjadi faktor utama untuk mencegah kecelakaan," paparnya.
Baca Juga: SPPG Wonokerto Turi Dihentikan
Dia meminta pengunjung mempersiapkan kondisi fisik dan perlengkapan sesuai aktivitas yang dilakukan. Kemudian, memperhatikan perkembangan cuaca, mematuhi ketentuan dan standar operasional prosedur (SOP), serta tetap berada di jalur yang telah ditetapkan.
Pengunjung juga diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran dan membawa kembali sampah yang dihasilkan selama berada di kawasan.
Kesiapsiagaan itu menjadi bagian dari upaya menyeimbangkan pertumbuhan wisata dengan keselamatan pengunjung dan perlindungan ekosistem Gunung Merbabu. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo