MAGELANG - Penurunan drastis jumlah siswa baru dirasakan SDN Potrobangsan 4, Kota Magelang. Pada tahun ajaran 2026/2027, sekolah ini hanya menerima empat siswa. Jumlah itu merosot dibanding tahun sebelumnya yang masih mencapai 16 siswa.
Kepala SDN Potrobangsan 4 Lis Wurirawati mengutarakan, dari empat siswa yang diterima, satu di antaranya merupakan siswa pindahan. Sementara lainnya berasal dari wilayah sekitar dengan latar belakang domisili yang beragam.
"Total ada empat anak. Satu mutasi, satu lagi secara administrasi masih di Wonosobo tapi sudah tinggal di sini, dan dua lainnya warga Magelang," ujarnya, Senin (13/7).
Bahkan, lanjut dia, satu siswa tercatat belum genap berusia enam tahun. Sehingga secara administratif masih masuk kategori residu dalam sistem data pokok pendidikan (dapodik).
Baca Juga: 20 SD Negeri di Kota Magelang Kekurangan Siswa, DPRD Dorong Regrouping
Lis menjelaskan, penurunan jumlah siswa baru ini tidak terjadi tanpa sebab. Dia menilai, faktor utama adalah banyaknya sekolah dasar dalam satu kawasan yang membuat pilihan orang tua semakin beragam.
Dia mencontohkan, di sekitar wilayah Potrobangsan, terdapat sejumlah SD negeri lain yang berdekatan, seperti SDN Magelang 4, 5, 6, dan 7, serta SDN Potrobangsan 1, 2, dan 3. Kondisi ini membuat calon siswa tersebar ke berbagai sekolah.
"Wilayah sini itu padat sekolah. Orang tua tentu memilih yang paling dekat atau yang dianggap terbaik. Jadi persaingannya sangat terasa," jelasnya.
Padahal, kata Lis, sekolah telah melakukan berbagai upaya untuk menjaring siswa jauh sebelum pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Satu di antaranya dengan metode door to door atau mendatangi langsung rumah warga.
"Kami menanyakan ke keluarga yang sudah sekolah di sini, juga promosi ke TK. Tapi keputusan tetap di orang tua," katanya.
Baca Juga: Lima SD Negeri di Gunungkidul Resmi Diregrouping, Disdik Masih Kaji Sekolah Lain
Secara keseluruhan, jumlah siswa SDN Potrobangsan 4 saat ini mencapai 88 anak. Rinciannya, kelas 2 dan 3 masing-masing 17 siswa, kelas 4 sebanyak 10 siswa, kelas 5 berjumlah 12 siswa, dan kelas 6 sebanyak 16 siswa.
Meski jumlah siswa baru minim, lanjut dia, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Hari pertama sekolah dimulai dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), yang mana siswa diajak mengenal lingkungan sekolah dan berinteraksi satu sama lain.
Guru kelas 1, Wahyu Dwi Astuti mengaku, kondisi ini menjadi pengalaman baru dalam karier mengajarnya. Dia menyebut, jumlah siswa yang sangat sedikit justru menghadirkan tantangan sekaligus peluang.
Dengan jumlah siswa yang lebih sedikit, praktis proses pembelajaran bisa dilakukan lebih intensif dan menyeluruh. "Kalau tahun lalu ada 16 anak, sekarang hanya empat. Awalnya memang terasa turun, tapi ada sisi positifnya," akunya. (aya/laz)
Editor : Herpri Kartun