MAGELANG - Pemerintah mulai mendorong transformasi penyediaan air bersih di lingkungan pendidikan dengan menghadirkan sistem air minum siap konsumsi langsung dari keran (tap water).
Akademi Militer (Akmil) Magelang menjadi satu lokasi percontohan, seiring pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai, penyediaan air minum yang aman dan mudah diakses menjadi kebutuhan mendasar. Terutama bagi taruna yang menjalani aktivitas fisik tinggi setiap hari.
Baca Juga: Harga Kelapa Tak Menarik, Olahan Kopra Jadi Penyelamat Petani dan Pengepul
"Aktivitas taruna sangat berat, sehingga tidak boleh kekurangan cairan. Kalau sampai dehidrasi, risikonya bisa fatal," ujar AHY di sela kunjungan, Sabtu (11/7/2026).
Dalam sistem yang tengah dibangun, air bersumber dari mata air yang lebih dulu diolah oleh PDAM sebelum masuk ke instalasi di Akmil.
Di lokasi tersebut, air kembali diproses menggunakan teknologi lanjutan, termasuk penyinaran ultraviolet (UV), untuk memastikan bebas bakteri dan aman dikonsumsi.
Hasilnya, kata AHY, air dapat langsung diminum tanpa perlu dimasak atau dikemas ulang.
"Airnya langsung bisa diminum dari keran. Tadi saya sudah coba sendiri, segar dan aman," kata AHY.
Dia menyebut, pemerintah menyadari kebutuhan air akan terus meningkat, seiring bertambahnya jumlah taruna dan aktivitas pendidikan di Akmil. Karena itu, kapasitas instalasi dirancang untuk dapat dikembangkan.
"Mudah-mudahan ke depan bisa kita tambah lagi kapasitasnya. Jumlah taruna terus bertambah, dan kegiatan di sini juga semakin banyak," terang AHY.
Baca Juga: Kandang Ayam Terbakar di Padureso Kebumen, Kerugian Capai Rp 750 Juta: Dugaan Awal Karena Ini
Selain air bersih, perhatian juga diarahkan pada pengelolaan limbah melalui pembangunan IPAL.
Selama ini, sistem limbah dinilai belum optimal dan berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, termasuk bau tidak sedap dan risiko kesehatan.
Dalam proyek ini, sejumlah titik limbah telah dipetakan untuk diintegrasikan ke dalam sistem pengolahan terpusat. Dengan begitu, limbah tidak lagi terjebak di satu lokasi dan mencemari lingkungan sekitar.
"Ini penting agar tidak ada lagi limbah yang mengendap dan menimbulkan bau atau gangguan kesehatan," sambungnya.
AHY menambahkan, pembangunan IPAL ditargetkan rampung pada akhir tahun ini dengan anggaran sekitar Rp 11,4 miliar. Dia berharap, sistem tersebut mampu meningkatkan kualitas lingkungan kampus secara signifikan.
Sementara itu, Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Jawa Tengah Nanda Lasro Elisabet Sirait menjelaskan, instalasi tersebut saat ini memiliki debit sekitar 2,5 liter per detik.
Kapasitas itu mampu melayani sekitar 2.500 penghuni di lingkungan Akmil.
"Air yang telah diolah kemudian didistribusikan ke berbagai fasilitas, mulai dari barak, paviliun, hingga hunian taruna, sehingga akses air minum menjadi lebih praktis dan merata," tambahnya. (aya/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita