SRAGEN - Pemprov DIY memperkuat diplomasi budaya dengan Kabupaten Sragen melalui program "Muhibah Budaya Sragen 2026". Agenda itu tidak sekadar menjadi kunjungan kebudayaan, tetapi upaya merajut kembali jejak sejarah perjuangan Bendara Pangeran Harya (BPH) Mangkubumi atau Sultan Hamengku Buwono I di Bumi Sukowati yang dinilai sebagai salah satu rahim lahirnya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, hubungan historis antara Jogjakarta dan Sragen tidak dapat dipisahkan dari perjalanan gerilya Pangeran Mangkubumi melawan VOC sebelum berdirinya kasultanan.
Menurutnya, DIY memang menjadi pusat gravitasi budaya Mataram Islam dengan lebih dari 750 benda cagar budaya. Namun, nilai-nilai Mataraman tidak berhenti pada batas administratif wilayah.
"Pasca Perjanjian Giyanti 1755, wilayah budaya memang terbagi, tetapi etika, estetika, dan filosofi Mataram tetap hidup di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Sragen yang dahulu dikenal sebagai Bumi Sukowati," ujarnya saat ditemui di Situs Petilasan Pendopo Mangkubumi, Kamis (9/7/2026).
Baca Juga: Petilasan Goa Mangkubumi di Sragen Dirawat Warga, Jadi Jejak Perjuangan Lahirnya Kasultanan Jogja
Dian menjelaskan, Muhibah Budaya menjadi sarana melakukan restorasi sejarah sekaligus mempererat kembali ikatan budaya yang sempat terpecah akibat konflik masa lalu maupun kolonialisme.
Selain restorasi sejarah, kegiatan itu juga diarahkan sebagai media diplomasi budaya. Nilai-nilai Mataraman diharapkan dapat menjadi sarana transfer pengetahuan kepada generasi muda dalam menghadapi tantangan global.
"Yang ingin kami komunikasikan adalah relevansi nilai Manunggal Seng Sedya, yaitu kesatuan visi antara pemimpin dan rakyat yang lahir dari perjuangan Mangkubumi di Sukowati," jelas Dian.
Sementara itu, Pamong Budaya Bidang Kebudayaan Disdikbud Sragen Anjarwati Sri Sayekti mengungkapkan, Pendopo Pandak atau Pendopo Mangkubumi menjadi lokasi paling penting karena menjadi tempat pertama Pangeran Mangkubumi singgah setelah meninggalkan Keraton Kartasura untuk memulai perang gerilya melawan VOC.
"Di tempat itu beliau bertemu Mbok Rondo Dadapan dan disuguhi jenang katul panas beserta jenang abang putih. Ada pesan filosofi yang kemudian menjadi strategi perang beliau," ujarnya.
Ia menuturkan, saat itu Mbok Rondo Dadapan berpesan agar jenang panas tidak dimakan dari bagian tengah, melainkan dimulai dari pinggir agar cepat dingin. Nasihat sederhana itu, kata dia, kemudian diterjemahkan Mangkubumi menjadi strategi militer.
Anjarwati menambahkan, bangunan Pendopo Pandak sendiri memiliki nilai sejarah tinggi karena merupakan pendopo pemberian Tumenggung Ronggo Wirosentiko. Sebagian bangunan itu kemudian diboyong ke Jogjakarta dan menjadi bagian dari perkembangan Kasultanan.
"Beliau menyerang dari wilayah pinggiran terlebih dahulu, baru kemudian menuju pusat kekuatan Belanda. Strategi itulah yang akhirnya membawa keberhasilan dalam perjuangan melawan VOC," ungkapnya. (bas/laz)
Editor : Herpri Kartun