Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jaringan Air Bersih 30 Km di Lereng Merapi Kabupaten Dipulihkan, 4.000 KK Kembali Terlayani  Pascabencana Lahar

Naila Nihayah • Jumat, 3 Juli 2026 | 20:41 WIB
DIALIRKAN: BNPB memberi bantuan berupa pipanisasi jaringan air bersih kepada ribuan warga yang terdampak lahar Merapi. (Foto: Naila Nihayah/Radar Jogja)
DIALIRKAN: BNPB memberi bantuan berupa pipanisasi jaringan air bersih kepada ribuan warga yang terdampak lahar Merapi. (Foto: Naila Nihayah/Radar Jogja)

MUNGKID - Akses air bersih bagi ribuan warga di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, akhirnya pulih setelah sempat lumpuh imbas banjir lahar dingin.

Jaringan pipa air bersih sepanjang lebih dari 30 kilometer itu kini bisa melayani lebih dari 4.000 KK di tujuh desa terdampak.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, pemerintah memiliki kewajiban untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak banjir lahar bisa segera terpenuhi.

Pipanisasi menjadi solusi setelah jaringan air sebelumnya hanyut diterjang material lahar dari Gunung Merapi.

Baca Juga: Pintu Waduk Wadaslintang Ditutup, Wisata River Tubing di Sendangdalem Kabumen Vakum Sementara

"Air bersih adalah sumber kehidupan, sehingga ini menjadi prioritas penanganan," ujar Suharyanto usai meresmikan pipanisasi jaringan air bersih di Desa Paten, Dukun, Jumat (3/7/2026).

Dia menyebut, Kabupaten Magelang memang berada di jalur rawan lahar dingin Merapi.

Sehingga risiko kerusakan infrastruktur akibat aliran material vulkanik menjadi ancaman setiap musim hujan.

Suharyanto menegaskan, pemulihan akses air bersih ini bukan akhir dari penanganan.

BNPB juga menyiapkan langkah lanjutan untuk mengantisipasi potensi kekeringan yang diperkirakan terjadi mulai Juli 2026 hingga awal 2027.

Baca Juga: Sempat Turun Seminggu Terakhir, Harga Telur Ayam di Pasar Bantul Kembali Naik Jadi Rp 24.000 Per Kg

"Kami mendapat laporan masih ada desa lain yang berpotensi mengalami kekeringan.

Nanti akan kami tindak lanjuti, apakah dengan pipanisasi seperti ini atau pengeboran sumur dalam," katanya.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji menuturkan, bencana lahar dingin sebelumnya menyebabkan kerusakan masif pada jaringan air bersih sepanjang hampir 39 kilometer di tujuh desa.

Yakni Paten, Sewukan, Sengi, Sumber, Wates, Krinjing, dan Keningar.

Akibatnya, ribuan warga sempat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Saat itu, lanjut Grengseng, kondisi benar-benar darurat karena jaringan air hanyut terbawa lahar.

Baca Juga: Tambah 4 Perjalanan, Commuter Line Jogja-Palur Layani Lonjakan Penumpang selama Libur Sekolah

Dia menyebut, respons pemerintah pusat tergolong cepat. Setelah pengajuan bantuan dilakukan, dalam waktu sekitar satu minggu pipa berjenis HDPE sudah dikirimkan dan dipasang melalui kerja sama lintas pihak. Termasuk dukungan sektor swasta melalui program CSR.

 "Kolaborasi antara pemerintah daerah, BNPB, dan dukungan CSR membuat pemulihan ini bisa berjalan cepat. Hari ini seluruh jaringan sudah terpasang," lontarnya.

Meski demikian, dia mengingatkan, Kabupaten Magelang merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi.

Selain Gunung Merapi di sisi timur, wilayah ini juga dikelilingi Gunung Merbabu, Sumbing, serta perbukitan Menoreh, yang membuat hampir seluruh kawasan memiliki potensi risiko bencana.

Baca Juga: Try Out Malioboro Pedestrian Dilakukan, Pemkot Jogja Temukan Persoalan di Sirip-Sirip saat Hari Kerja

Karena itu, pemerintah daerah juga mengusulkan dukungan lanjutan berupa pembangunan infrastruktur evakuasi.

Khususnya jalan dan jembatan di kawasan rawan, guna memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana berikutnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sumber, Dukun, Maryono menambahkan, seluruh jaringan air bersih di wilayahnya sempat mati total setelah dihantam lahar. Lantaran jaringan pipanya turut hanyut terbawa lahar Gunung Merapi.

"Semua hanyut. Waktu itu kami hanya menyambung seadanya untuk darurat, airnya pun harus bergiliran karena sangat terbatas," tuturnya.

Setelah bantuan pipa HDPE dari BNPB datang, kata Maryono, proses pemasangan dilakukan selama sekitar satu bulan lebih. Air bersih mulai kembali mengalir dan bisa digunakan masyarakat sejak pasca Idulfitri.

Baca Juga: PSS Sleman Umumkan Perpisahan dengan Nuri Fasya

"Sekarang alhamdulillah sudah bisa digunakan. Bahkan lebih baik karena menggunakan pipa HDPE yang sambungannya lebih sedikit, sehingga aliran air lebih maksimal," terangnya.

Selain jaringan pipa, pembangunan bak penampung air juga tengah disiapkan di berbagai titik melalui dukungan CSR. Fasilitas ini diharapkan dapat memperkuat distribusi air ke kelompok-kelompok pengguna di masing-masing desa.

Maryono berharap, dengan pulihnya jaringan ini, kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi secara berkelanjutan. Bahkan mampu membantu wilayah lain yang mengalami kekurangan air bersih. (aya/laz)

Editor : Herpri Kartun
#Jaringan pipa air bersih #Magelang #Letjen TNI Suharyanto #BNPB #Gunung Merapi