MUNGKID - Temuan logam berwarna kekuningan di situs Candi Losari, Kabupaten Magelang, mulai menemukan titik terang. Berdasarkan uji laboratorium Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah, benda itu bukan emas murni, melainkan elektrum atau paduan logam yang secara historis kerap digunakan dalam konteks ritual dan simbolis pada bangunan suci.
Penanggung jawab rekonstruksi Candi Losari, Junawan menjelaskan, berdasarkan hasil pengujian, komposisi logam tersebut merupakan campuran emas, perak, tembaga, dan unsur logam lain.
Secara kualitas, kandungannya disetarakan dengan emas berkadar sekitar 16,5 karat. "Secara ilmiah disebut elektrum, campuran beberapa logam. Nilainya setara emas 16,5 karat," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (10/6).
Logam tersebut ditemukan pada April 2026 di bagian dasar struktur candi yang berlokasi di Dusun Losari, Losari, Salam. Temuan itu berada dalam sebuah kotak peripih atau wadah yang dalam tradisi arkeologi dikenal sebagai elemen penting dalam pembangunan candi.
Junawan menyebut, peripih bukan sekadar pelengkap konstruksi, tetapi memiliki makna simbolik dan spiritual. Keberadaan logam tersebut, kata dia, berkaitan dengan fungsi sakral sebagai 'penghidup' unsur spiritual bangunan. "Sederhananya sebagai sumber energi spiritual suatu candi, untuk menghidupkan roh atau jiwa kedewaan," katanya.
Selain lempengan logam, isi peripih umumnya terdiri atas berbagai material simbolik lain, seperti biji-bijian, batu mulia, hingga lempeng logam bertulis. Kombinasi benda-benda ini diyakini merepresentasikan konsep kosmologi dan keseimbangan alam dalam ajaran yang berkembang saat candi dibangun.
Dia menjelaskan, secara fisik, logam temuan di Candi Losari memiliki ukuran panjang 18,25 sentimeter, lebar 11,02 sentimeter, dengan ketebalan 0,11 sentimeter. Beratnya tercatat sekitar 0,1117 gram.
Meski relatif tipis, lanjut Junawan, nilai historis dan arkeologisnya dinilai jauh lebih penting dibanding nilai material semata. Temuan ini melengkapi penemuan lain di lokasi yang sama, yakni dua arca Dewa Surya yang juga ditemukan saat proses pemugaran berlangsung.
"Seluruh artefak tersebut kini telah diamankan di Kantor BPK Jawa Tengah di wilayah Bugisan, Prambanan, Klaten, untuk keperluan konservasi dan penelitian lanjutan," paparnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo