KEBUMEN - Perbedaan keyakinan bukan menjadi penghalang bagi warga Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah untuk selalu hidup rukun saling berdampingan. Semangat kebersamaan dan toleransi antarumat beragama terlihat dalam perayaan Tri Suci Waisak atau Hari Raya Waisak 2570 Tahun Buddhis, Minggu (31/5).
Kepala Desa Karangduwur Sutono mengatakan, perayaan Waisak yang belangsung khidmat menjadi bukti keberagaman di desanya dapat berjalan beriringan seiring dengan semangat persatuan. Menurutnya, perbedaan yang ada bukan menjadi penghambat warganya hidup rukun dan saling bergotong-royong. "Ya, tadi sudah saya sampaikan pentingnya saling mengasihi antar sesama makhluk," ucapnya kepada Radar Jogja.
Menurutnya, toleransi di Desa Karangduwur bukan hanya sekadar jargon yang mudah diucapkan, melainkan sebagai prinsip hidup bagi warganya. Dia mengungkapkan, semangat toleransi juga tidak hanya ditujukkan ketika perayaan hari besar keagamaan, tetapi juga dalam berbagai aktivitas sehari-hari. "Perbedaan bukan untuk bahan saling menjatuhkan. Kami di sini bahkan saling melengkapi," sambungnya.
Perayaan Hari Raya Waisak di Desa Karangduwur terpusat di Vihara Jalagiripura. Perayaan berlangsung penuh khidmat dengan diikuti umat Buddha serta masyarakat setempat yang membantu kelancaran acara. Perayaan Waisak diawali menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya sebagai wujud kecintaan terhadap tanah air.
Baca Juga: Mataram Utama Pimpin Grup H Liga 4 Piala Presiden 2026 di Jogja
Setelah itu, dilanjutkan doa bersama dan mendengarkan khotbah keagamaan yang disampaikan tokoh agama Buddha. Kegiatan juga dimeriahkan penampilan tarian budaya dan lomba tumpeng yang menambah semarak peringatan Waisak tahun ini.
Tokoh masyarakat setempat Saimun 47, mengatakan, keharmonisan antarumat beragama menjadi potret nyata kehidupan bermasyarakat di Desa Karangduwur. Dia mengungkapkan, meski memiliki keyakinan berbeda, warga tetap menjaga hubungan baik dalam kehidupan sehari-hari. "Saling bantu meski beda agama bukan sesuatu yang aneh di desa kami. Sudah lama kami hidup berdampingan," ungkapnya. (fid)
Editor : Sevtia Eka Novarita