KEBUMEN - Dari kejauhan, Arif Rahmadi tampak sedang duduk santai di teras rumahnya. Dengan tampilan seadanya, berkain sarung dan mengenakan kaos oblong, dia sibuk menggenggam tablet dan ponselnya. Bukan untuk urusan bisnis, kesibukan itu dia lakukan hampir setiap hari untuk mengelola media sosial pribadinya.
Selepas purna sebagai aparatur sipil negara (ASN), Arif tak lagi dituntut berbagai aktivitas formal. Kini, mantan Camat Ayah itu menikmati rutinitas baru sebagai konten kreator. Dia perlahan fokus untuk berkcimpung di dunia maya.
Lewat akun pribadinya, pria 58 tahun ini setiap hari dengan telaten mengunggah berbagai konten di media sosial. "Selain hiburan, medsos juga saya jadikan untuk edukasi," ucap Arif kepada Radar Jogja, Senin (25/5).
Saat ditemui, Arif terlihat begitu akrab dengan ponsel dan tablet pintar yang digunakan untuk produksi konten. Meski tak lagi muda, dia tak gagap teknologi (gaptek).
Ia pun tampak begitu terampil menggunakan aplikasi editing video dan foto untuk kebutuhan konten. Dia mempelajari itu tanpa sekolah khusus alias otodidak.
Baca Juga: Kapolres Sebut Teror Pocong Produk AI, Warga Kebumen Mengaku Tak Takut
Sebentar duduk di teras rumah, suara notifikasi pada perangkat pribadinya nyaris tak pernah berhenti. Suara itu menandai unggahan di medsosnya dapat diterima warganet.
Sesekali dia mengecek ponsel untuk memeriksa jumlah tayangan sekaligus membalas satu per satu komentar pengikutnya di medsos. "Saya punya akun lawas sudah sampai 10 ribu penonton. Tapi kena pelanggaran, belum lama merintis akun lagi," katanya.
Selama berinteraksi di medsos, Arif telah banyak memproduksi beragam konten, mulai aktivitas harian hingga pandangan ringan tentang kehidupan. Namun konten yang paling sering diunggah berkaitan dengan kondisi infrastruktur. Dia begitu aktif menyoroti berbagai hal soal kondisi jalan.
Konsistensi tema ini yang kemudian banyak diterima warganet. "Kaitan jalan mudah dicari, kita pergi ke mana pasti lewat jalan. Dan, itu menyangkut orang banyak. Tinggal dibuat konten," jelas warga Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan itu.
Baginya, banyak hal yang dapat diambil dari aktivitas di medsos. Salah satunya peluang pendapatan yang cukup menjanjikan. Ada keuntungan secara finansial yang menjadi salah satu motivasi untuk serius mengelola medsos.
Dia tak menyebut secara gamblang berapa penghasilan yang diperoleh dari aktivitas bermedsos. Namun jika dirata-rata, potensi pendapatan mampu mencapai 200 dolar AS dalam kurun waktu tiga bulan.
Nominal itu dirasa cukup lumayan sebagai ganti lelah dalam mengelola akun medsos. Di satu sisi aktivitas sebagai konten kreator juga menjadi sarana dirinya tetap produktif dan terhubung dengan banyak orang. "Tergantung performa konten. Kita juga harus ikut tren dan bisa memahami selera warganet," ungkapnya.
Berselancar di media sosial, menurutnya, membuka peluang ekonomi bagi siapa saja, tanpa terhalang status latar belakang dan jabatan. Lewat ketekunan dan kreativitas, platform digital dibuatnya bukan hanya tempat berbagi cerita, tetapi juga ladang penghasilan.
"Perlahan tapi pasti, akun yang baru punya saya kemarin paling banyak ditonton 2,3 juta. Kita harus paham algoritma juga," ujarnya. (fid/laz)
Editor : Herpri Kartun