MAGELANG - Sebuah kartu pos tua menjadi penunjuk arah bagi Elsbeth de Jager.
Perempuan asal Belanda itu datang ke Kota Magelang untuk menelusuri jejak kakek buyutnya yang pernah hidup dan mengajar di Kota Sejuta Bunga tersebut lebih dari seabad lalu.
Bersama sang suami, Melvin Van Deventer, Elsbeth menyusuri sudut-sudut kota.
Mencoba menghubungkan potongan sejarah keluarganya dengan lanskap Magelang masa kini.
Nama kakek buyutnya, Johanes Dionijsius Winnen atau JD Winnen, menjadi titik awal penelusuran.
Dari arsip keluarga yang terbatas, Elsbeth mengetahui JD Winnen merupakan seorang guru pada masa kolonial Belanda.
Ia pernah mengajar di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar untuk kalangan Eropa yang berdiri di awal abad ke-20, sekitar tahun 1902.
Kini, bangunan sekolah tersebut telah beralih fungsi menjadi Kantor Pengadilan Negeri (PN) Magelang. Jejak itu membawa Elsbeth menyusuri lokasi-lokasi yang pernah menjadi bagian dari kehidupan leluhurnya.
Ia juga mendatangi bekas Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA), sekolah pendidikan bagi calon pegawai pribumi pada masa kolonial.
Kini sekolah itu menjadi Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Magelang.
Namun, perjalanan ini bukan sekadar wisata sejarah. Bagi Elsbeth, ini adalah upaya personal untuk menyambung kembali kisah keluarga yang terputus oleh waktu.
"Saya menemukan satu foto kakek buyut saya beberapa tahun lalu di internet," ucapnya saat ditemui di Museum Mosvia Magelang, Jumat (22/5).
Dari satu foto dan sebuah kartu pos lama, ia mencoba merangkai petunjuk. Dalam kartu pos tersebut, JD Winnen sempat menyinggung keberadaan trem dan jarak rumahnya yang diperkirakan hanya beberapa menit dari sekolah.
Informasi itu menjadi satu-satunya petunjuk yang ia miliki untuk menemukan rumah sang leluhur. Namun, tanpa alamat pasti, pencarian itu menjadi penuh tantangan.
"Kami tidak punya alamat, hanya satu foto dan kartu pos. Jadi sangat sulit menentukan lokasinya," kata Elsbeth.
Meski demikian, keterbatasan itu tak menyurutkan langkahnya. Ia bahkan sempat kembali ke Indonesia beberapa tahun lalu untuk melakukan pencarian serupa.
Termasuk menelusuri kawasan Bayeman yang diduga memiliki keterkaitan dengan tempat tinggal keluarganya.
Dalam penelusurannya kali ini, Elsbeth juga mengunjungi Museum Mosvia, berharap menemukan jejak visual lain seperti foto lama kakek buyutnya.
Namun, pencarian itu belum membuahkan hasil. Terlebih, kata dia, perjalanan sejarah JD Winnen sendiri tidak hanya berhenti di Magelang.
Berdasarkan catatan keluarga, ia sempat berpindah ke sejumlah kota seperti Bandung dan Ambon.
Pada 1914, ia ditugaskan ke Purworejo dan kemudian menjadi kepala sekolah di Hoge Kweekschool (HKS), lembaga pendidikan guru berasrama yang kini menjadi SMAN 7 Purworejo.
Bagi Elsbeth, perjalanan ini bukan semata soal menemukan bangunan fisik, melainkan merasakan kembali keterhubungan dengan masa lalu keluarganya.
Ia mengaku bahagia bisa melihat langsung ruang-ruang yang dulu pernah menjadi tempat mengajar kakek buyutnya.
Baca Juga: Lima Atlet Padel Asal DIY Masuk Pelatnas, Diproyeksikan ke Asian Games hingga PIala Dunia
Meski hingga kini rumah yang ia cari belum ditemukan, perjalanan Elsbeth di Magelang menghadirkan kisah tentang ingatan, identitas, hingga upaya menyusun kembali sejarah keluarga yang nyaris hilang.
"Saya juga seorang guru. Jadi ketika melihat ruang-ruang itu, rasanya sangat menyentuh," bebernya.
Elsbeth dan suaminya didampingi oleh Bagus Priyana dari Komunitas Kota Toea Magelang, yang turut membantu menelusuri kemungkinan lokasi rumah yang dimaksud.
"Ini kunjungan yang sangat spesial. Ada ikatan emosional yang kuat karena leluhurnya pernah mengajar di Magelang, baik di ELS maupun OSVIA," ujarnya.
Menurut Bagus, pencarian rumah itu menjadi tantangan tersendiri, mengingat minimnya dokumentasi yang tersedia.
Foto yang dimiliki Elsbeth pun disebut belum pernah ditemukan dalam arsip atau dokumentasi publik.
"Ini benar-benar foto autentik dari keluarga, belum pernah muncul di media sosial atau arsip lain. Jadi kami juga masih terus mencoba menelusuri," lontarnya. (laz)
Editor : Herpri Kartun