KEBUMEN - Menguatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah belakangan membawa angin segar bagi konten kreator di Kebumen. Para pelaku industri digital ini mengaku sedikit lega karena penghasilan mereka dalam hitungan rupiah otomatis ikut terkerek.
Arif Rahmadi, 58, konten kreator asal Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan menyebut, penguatan dolar tentu cukup berdampak terhadap pendapatan bulanan konten kreator. Di mana pembayaran hasil produksi konten pada platform digital umumnya menggunakan mata uang dolar sebelum akhirnya dikonversi menjadi nilai rupiah.
"Bisa dibilang jadi keuntungan karena bayaran ngonten pakai dolar. Kalau harga dolar naik, hasilnya ya ikut naik," ungkapnya saat ditemui Radar Jogja, Selasa (18/5).
Menurut Arif, penguatan kurs dolar paling tidak sedikit mengurangi kecemasan para konten kreator terkait pendapatan mereka yang terkadang tak menentu. Dia mengatakan pendapatan dari hasil konten memang kerap mengalami fluktuasi karena ditentukan dari performa setiap konten.
"Bayaran sedikit, tetap saja untung. Sebelumnya, katakan satu dolar Rp 16 ribu, sekarang ke Rp 17 ribu lebih," terang Arif yang fokus konten di bidang infrastruktur itu.
Dia mengungkapkan, ekosistem ekonomi digital di Kebumen kini perlahan mulai terbangun. Aktivitas menghasilkan pundi-pundi rupiah dari platform digital bahkan sekarang sudah menjangkau masyarakat di pelosok desa.
Tak sedikit masyakat dari berbagai latar belakang kini tidak hanya bergantung pada sektor konvensional, tetapi meraka juga mendapat pemasukan lebih dari ruang digital. "Orang gunung sekalipun, sekarang sudah terbiasa bayaran pakai dolar. Walaupun ujungnya masuk rekening dalam bentuk rupiah," jelasnya.
Baca Juga: Angka Kemiskinan 6,71 Persen, Masih Ada 26.747 Keluarga Miskin di Sleman
Sementara itu, konten kreator lain Teguh Purnomo mengatakan, pendapatan kreator digital dari hasil monetisasi dihitung dalam bentuk dolar. Sistem transaksi pembayaran ini berlaku di berbagai platform media.
Ketika terjadi penguatan terhadap dolar, maka jumlah rupiah yang diterima akan ikut meningkat. "Sekarang dikasih harga tinggi karena nilai tukar uangnya juga tinggi," katanya.
Baca Juga: Jelang Kurban, Gelar Pelatihan Juru Sembelih Halal: Kolaborasi DPW PKB dengan PCNU Bantul
Teguh tak memungkiri, kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah seperti sekarang membawa banyak konsekuensi. Artinya ada dampak negatif dan positif yang ditimbulkan atas kondisi yang sedang terjadi. Misal kenaikan harga sejumlah bahan pokok tak dapat dihindari akibat penguatan nilai dolar.
Meski demikian, dia berharap kondisi ekonomi secara makro tetap stabil di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks. "Menilik dari segi konten kreator cukup diuntungkan. Namun harus dipahami ada juga lonjakan biaya hidup," ucapnya. (fid/laz)