KEBUMEN - Harapan Mochamad Faik untuk meminang seorang wanita, kandas di tengah jalan. Dia kini pergi untuk selama-lamanya bersama sebuah angan. Semua impian yang dibangun sirna begitu saja, setelah personel Satpol PP Kebumen itu meregang nyawa di tangan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Pagi itu (13/2) lirih doa terdengar di area Masjid Raudlatul Muttaqin. Tepatnya di Kampung Keposan, Kelurahan Kebumen. Bacaan doa dan tahlil dipanjatkan di depan keranda hijau berisi jasad Mochamad Faik. Sosok Satpol PP yang gugur ketika menjalankan tugas.
Kepergian Faik bukan hanya meninggalkan cerita tragis. Pria 33 tahun itu juga memendam kisah asmara. Faik sedianya bakal melangsungkan lamaran dalam waktu dekat. Rencana pernikahan pada pertengahan tahun ini juga sudah tersusun rapi.
Namun harapan dan niat besar Faik, sekarang harus dikubur dalam-dalam bersama kepergiannya yang mendadak. "Sudah rencana. Habis Lebaran lamaran, sekitar Juni atau Juli menikah," kata ayah Faik, Ahmad Mubarok kepada Radar Jogja, Selasa (3/2).
Meninggalnya Faik menjadi pukulan berat bagi keluarga. Apalagi rencana anak pertama dari enam bersaudara itu seketika gagal untuk membangun rumah tangga. Orang tuanya kini hanya bisa pasrah sambil menerima keadaan. "Di keluarga sini sudah musyawarah. Mau kapan, semua sudah oke," kata Mubarok.
Pria yang lahir dari pasangan Ahmad Mubarok dan Sri Lestari itu dikenal sumeh. Di lingkungan sekitar, Faik juga dinilai pribadi yang cukup mudah bergaul. Di mata rekan sejawatnya, Faik merupakan sosok loyal dan pekerja keras. Terbukti ketika mendapat tugas pengamanan ODGJ, dia menjalankan dengan penuh dedikasi.
Keluarga tak pernah menyangka anaknya menjadi korban saat bertugas mengevakuasi ODGJ di Desa Krakal, Kecamatan Alian, Senin (2/2). Dedikasi yang diberikan ternyata berubah menjadi peristiwa tragis. Faik terkena sabetan senjata tajam pada bagian leher ketika emosi ODGJ itu tak terkontrol. Insiden berdarah itu merenggut nyawanya. "Tidak ada firasat apa-apa. Tahu-tahu dikabari dibawa ke rumah sakit. Keluarga sini kaget banget," ucapnya.
Tetes air mata turut mengiringi kepergian Faik. Orang tua dan kerabat terlihat begitu terpukul menyaksikan Faik pergi untuk selama-lamanya. Sesekali isak tangis itu pecah. Puncaknya ketika jenazah Faik lekas dibawa menuju tempat peristirahan terakhir. Sebelum beranjak ke pemakaman, keluarga bersama orang terdekat Faik telah menyatakan bahwa dia orang baik.
Rencana lamaran sampai ke jenjang pernikahan Faik kini tak akan pernah terwujud. Kepergiannya tinggal menyisakan doa dan harapan. Semua berubah menjadi kenangan yang akan terus terngiang. Keluarga hanya bisa berdoa pengabdian Faik dalam melaksanakan tugas menjadi ladang amal kebaikan kelak di akhirat nanti. (fid/laz)