Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Merti Ngupit ke-1159: Simbiosis Sejarah, Kearifan Lokal, dan Ekologi di Klaten

Magang Radar Jogja • Senin, 10 November 2025 | 18:39 WIB

Photo
Photo
KLATEN - Tradisi Merti Ngupit ke-1159 baru saja kembali dilaksanakan di Ngupit, Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten.

Acara tahunan ini bertujuan untuk menguatkan kembali jejak sejarah Desa Ngupit yang diyakini sebagai salah satu permukiman tertua di wilayah Klaten.

Lebih dari sekadar ritual, Merti Ngupit merupakan penghubung nilai-nilai luhur yang diwariskan tentang harmoni antara manusia dan lingkungannya.

Rangkaian acara telah berjalan sejak awal November, menampilkan berbagai kegiatan budaya seperti perlombaan, Ngupit Bersholawat, pertunjukan karawitan, seni khas Tari Pisungsung Upit, hingga ketoprak.

Puncak perayaan dilaksanakan pada Minggu (09/11/2025) melalui kirab budaya yang diikuti oleh sekitar 1.200 orang.

Kirab ini menampilkan 26 rombongan membawa hasil bumi dan sesajen adat sebagai simbol rasa syukur atas rezeki, sekaligus sarana penting untuk mempertahankan memori komunal desa.

Inti filosofis tradisi Merti Ngupit terletak pada prosesi pengambilan air dan tanah dari empat penjuru desa yang kemudian disatukan dengan air dari Sumber Pengilon (sebagai pancer atau pusat).

Prosesi ini mewujudkan konsep Jawa "Sedulur Papat Limo Pancer", menekankan bahwa keseimbangan hidup manusia bergantung pada kesadaran terpusat yang menyatukannya dengan alam sekitar.

Pada momen sakral di sumber mata air, dipentaskan wayang lakon "Wahyu Tirta Wening" oleh Dalang Jawahir.

Lakon ini menggarisbawahi pesan bahwa kejernihan air mencerminkan kejernihan moral dan batin masyarakat.

Sebagai penutup yang menekankan komitmen masa depan, setelah seluruh elemen alam dikembalikan, dilakukan penanaman pohon beringin di area balai desa.

Pohon beringin dipilih karena kemampuannya menyimpan air dan menjaga stabilitas tanah.

Tindakan ini menunjukkan bahwa Merti Ngupit adalah tradisi yang beralih dari simbolisme ritual ke aksi nyata konservasi.

Menurut Kepala Desa Kahuman, Wedoyo Joko Sumitro, Merti Ngupit menggarisbawahi kesadaran historis sekaligus ekologis desa.

Hal ini diperkuat oleh Rohani (penggerak seni budaya) bahwa tradisi harus mampu memberikan solusi bagi tantangan kontemporer, termasuk isu krisis air dan perubahan iklim.

Secara keseluruhan, Merti Ngupit ke-1159 berhasil mengintegrasikan warisan masa lalu, ekspresi budaya, dan tanggung jawab terhadap masa depan melalui kesadaran kolektif yang kuat.

Penulis: Cut Nazwa Khiranjani

Editor : Bahana.
#klaten