MUNGKID - Atap ruang kelas di SD Negeri Secang 3, Secang, Kabupaten Magelang ambruk pada Sabtu (1/11) akibat hujan deras. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Lantaran ruang yang roboh sudah tidak digunakan selama tiga tahun terakhir akibat kondisi bangunan yang retak dan lapuk.
Kepala Sekolah SDN Secang 3 Oktaviana menuturkan, ruang kelas yang roboh tersebut sebenarnya sudah dikosongkan sejak tiga tahun lalu. Kondisi bangunan yang dibangun pada tahun 1990-an itu mulai mengalami patahan di bagian atas. Sehingga pihak sekolah memutuskan untuk menahannya dengan penyangga bambu dan melarang aktivitas belajar di dalamnya.
Pihak sekolah juga sudah mengusulkan bantuan rehabilitasi ke dinas pendidikan sejak 2024. "Terakhir kami konfirmasi Juni 2025, katanya pembangunan akan masuk 2026. Tapi ternyata bangunannya sudah ambruk duluan," ujar Oktaviana di lokasi Senin (3/11).
Dia menyebut, beberapa minggu sebelum kejadian, tanda-tanda kerusakan semakin terlihat. Celah antara plafon dan dinding makin renggang. Bahkan sempat ada reruntuhan kecil dari bagian dalam ruangan. Pihak sekolah pun langsung memindahkan barang-barang penting.
Terlebih, saat itu, SDN Secang 3 baru saja mengikuti lomba rebana tingkat kabupaten, sehingga alat-alatnya masih disimpan di ruang tersebut. "Setelah ada peringatan dari komite sekolah, kami keluarkan semua barangnya seminggu sebelum kejadian," jelasnya.
Meski demikian, masih ada beberapa peralatan berat seperti lemari besi yang belum sempat dikeluarkan. "Rencananya mau kami keluarkan Rabu besok, tapi bangunannya sudah keburu roboh. Untungnya lemari itu tidak rusak parah," tambahnya.
Oktaviana menegaskan, aktivitas belajar mengajar di SDN Secang 3 tetap berjalan. Ruang kelas lain yang berderet dengan bangunan roboh akan diperiksa keamanannya oleh dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR) sebelum digunakan kembali.
Perwakilan dari dinas pendidikan juga sudah memonitor kondisi sekolah dan menghubungi DPUR untuk memastikan apakah ruang sebelah masih aman dipakai. "Kalau dinyatakan tidak aman, kami akan pindah ke ruang kegiatan sementara," bebernya.
Untuk sementara, kegiatan belajar kelas inklusi, yang dihuni anak-anak berkebutuhan khusus juga telah dipindah ke ruang perpustakaan sejak tiga tahun lalu karena keterbatasan ruang aman. "Kelas inklusi kami berisi sekitar 22 siswa, dan 11 di antaranya bergabung di kelas reguler," bebernya.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Magelang Amirudin Zuhri menyebut, pemeriksaan teknis dari DPUPR sangat penting untuk memastikan keselamatan siswa dan guru. Nanti akan ada hasil rekomendasi ruang mana yang masih bisa digunakan dan mana yang harus dikosongkan. Sehingga kepala sekolah akan memetakan ulang ruang kelas agar anak-anak bisa belajar di tempat yang aman.
Selain aspek keselamatan, dinas juga sedang menyiapkan langkah percepatan pembangunan kembali ruang yang roboh. Disdikbud akan hitung kebutuhan anggaran bersama DPUPR untuk menentukan estimasi biaya. "Pembangunan bisa menggunakan skema APBN, APBD, atau CSR, tergantung mana yang paling cepat terealisasi," paparnya.
Disdikbud juga telah melaporkan kejadian ini kepada pimpinan daerah agar proses tindak lanjut dapat segera dilakukan. "Yang utama saat ini adalah memastikan keselamatan siswa dan guru, baru kemudian mempercepat pembangunan kembali ruang kelas yang rusak," tegasnya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edi Wasono menjelaskan, sehari sebelum peristiwa robohnya bangunan, kondisi atap ruang kelas 3 sudah terlihat melengkung. Karena kondisinya yang sudah lapuk dan tidak kuat menopang beban ketika hujan deras turun pada Sabtu sore.
"Sekitar pukul 18.15 terdengar suara runtuhan, dan diketahui atap bangunan ruang kelas 3 roboh total," ungkap Edi. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita