Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Warga Bondowoso Magelang Hidupkan Pertanian dengan Kincir Air Tradisional, Teknologi Warisan Leluhur yang Masih Jadi Penopang Hidup Petani

Naila Nihayah • Kamis, 30 Oktober 2025 | 01:45 WIB

KEARIFAN LOKAL: Keberadaan kincir air tradisional di Dusun Gedongan Kidul menjadi alat untuk mengairi lahan pertanian dan kolam ikan.
KEARIFAN LOKAL: Keberadaan kincir air tradisional di Dusun Gedongan Kidul menjadi alat untuk mengairi lahan pertanian dan kolam ikan.


MUNGKID - Di tengah kemajuan teknologi, warga Bondowoso, Mertoyudan, Kabupaten Magelang masih mempertahankan kearifan lokal dengan memanfaatkan kincir air tradisional untuk mengairi lahan pertanian dan kolam ikan.

Alat sederhana berbahan bambu itu dinilai menjadi satu solusi bagi petani yang bergantung pada aliran Sungai Gending, tanpa memerlukan bahan bakar atau listrik.

Saat air mengalir, ia akan mengenai potongan bambu yang terpasang di roda kincir dan ditampung dalam wadah-wadah bambu.

Tabrakan air dengan potongan bambu itu akan menyebabkan roda kincir berputar. Bambu tersebut akan mengisi air saat berada di bagian bawah, lalu membawanya naik dan mengalirkannya pada pipa yang tersedia. Sehingga bisa mengairi sawah atau kolam ikan.

Inovasi tersebut diterapkan oleh warga Dusun Gedongan Kulon, Nur Kholis, 50. Pembuatan kincir air itu berawal dari kebutuhan praktis untuk menaikkan air sungai ke kolam ikan miliknya yang terletak persis di atas aliran Sungai Gending.

"Dari situ muncul ide untuk membuat kincir air, yang sebenarnya sudah ada sejak zaman mbah saya. Saya hanya meneruskan," katanya saat ditemui, Rabu (29/10/2025).

Kholis mengelola delapan kolam ikan yang diwariskan turun-temurun dari orang tuanya.

Dia memelihara berbagai jenis ikan air tawar, dengan ikan bawal sebagai komoditas utama. "Tanpa kincir air, saya tidak bisa mengairi kolam," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Bondowoso Muh Thoifur menjelaskan, wilayahnya memiliki sumber daya alam yang potensial, terutama dari sumber mata air Gending yang dikenal memiliki kualitas air bagus dan debit stabil.

Namun, letak sungai yang berada di bawah area persawahan menjadi tantangan tersendiri bagi warga dalam mengalirkan air ke lahan mereka.

Di Desa Bondowoso, terdapat lebih dari tiga unit kincir air yang masih aktif digunakan warga untuk kebutuhan pertanian dan perikanan.

"Saat berputar, air terisi dan ditampung di atas, lalu dialirkan ke lahan. Efektif sekali, tanpa biaya dan bisa beroperasi 24 jam penuh," lanjutnya.

Thoifur berharap, perhatian dari pihak terkait, termasuk perguruan tinggi terhadap inovasi tradisional seperti ini bisa meningkat.

Sebab, menurutnya, sektor pertanian di Bondowoso memiliki potensi besar jika dikelola dengan serius. Terlebih, kincir air termasuk kearifan lokal yang sudah ada sejak zaman dahulu. (aya/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Magelang #Pertanian #warisan leluhur #kincir air #pengairan sawah #warga bondowoso #kearifan lokal