KEBUMEN - Para kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Kebumen memastikan akan tunduk dan patuh terhadap kepengurusan baru di bawah komando Muhammad Mardiono. Mereka menyatakan legawa atas keputusan Menteri Hukum Supratman Andi Agtas yang menetapkan Mardiono sebagai Ketua Umum PPP berdasar hasil Muktamar ke-X.
Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PPP Kebumen Wahid Mulyadi mengatakan, babak akhir perseteruan antara kubu Agus Suparmanto dan Mardiono ditempuh dengan cara islah atau perdamaian. Islah ini menjadi jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan dualisme kepemimpinan di tubuh PPP.
"Sudah final. Semoga persatuan dua kubu ini jadi wasilah kami di PPP semakin besar," kata dia kepada Radar Jogja, Rabu (8/10).
Mulyadi mengatakan, islah antara Agus Suparmanto dan Mardiono sebagai kandidat terkuat Ketua Umum PPP telah berdasar hasil kompromi dan kesepakatan. Dia menjelaskan, awalnya sejumlah DPC yang pro terhadap perubahan di tubuh internal PPP merasa tidak setuju dengan keputusan islah. Namun, setelah melalui perenungan panjang, DPC pendukung Agus Suparmanto sepakat berada dalam satu gerbong kepengurusan Mardiono.
Keputusan ini, kata Mulyadi, diambil demi menjaga keutuhan dan stabilitas partai. Bergabungnya DPC kubu Agus Suparmanto juga atas masukan senior partai yang menginginkan tidak terjadi perpecahan antar kader PPP.
"Saya muktamirin. Hadir langsung di lokasi. Tapi kembali lagi, semua tujuannya demi kebaikan bersama," jelasnya.
Mulyadi juga mengapresiasi langkah yang diambil tokoh PPP pro perubahan, seperti Agus Suparmanto, Taj Yasin Maimoen, Romahurmuzy dan Masruhan Samsuri. Dia menganggap mereka telah mengambil keputusan bijak dalan menyikapi dinamika Muktamar ke-X PPP. Menurut dia, tanpa kematangan berpolitik sosok tersebut, PPP masih diselimuti bayang-bayang perpecahan antar kader.
"Di balik islah ini kami diyakinkan tokoh-tokoh kharismatik agar menerima keputusan," ungkapnya.
Lebih lanjut, atas kesepakatan islah ini Mulyadi mengajak seluruh pengurus DPC, pengurus anak cabang, pengurus ranting dan pengurus badan otonom PPP Kebumen untuk segera menyamakan persepsi atas kepengurusan baru di tingkat DPP. Dia tak ingin perpecahan justru akan menjadi batu sandungan bagi PPP dalam menghadapi Pemilu 2029.
"Masih banyak tantangan ke depan. Kalau internal kisruh terus, bagaimana mau fokus menjalankan misi keumatan," jelas Mulyadi.
Sementara itu, Ketua Gerakan Pemuda Kabah (GPK) Kebumen Nur Khadik mengatakan, keputusan islah antara kubu Agus Suparmanto dan Mardiono sebagai jalan tengah dalam mengakhiri pertikaian. Menurutnya, perseteruan yang sempat terjadi di internal PPP kini telah berakhir dengan indah. Di mana masing-masing tokoh sekarang telah saling bergandengan tangan. "Ketika kyai dawuh, pasti kami ikuti. Terpenting sekarang konsolidasi dan duduk bersama," jelasnya. (fid)
Editor : Sevtia Eka Novarita