MUNGKID - Di balik tembok sederhana bertuliskan Superbella, tersimpan kisah ketekunan pasangan suami istri, Wahyu, 38 dan Keiki Wilmanita, 38 yang menolak menyerah meski bisnis lama mereka runtuh diterpa pandemi. Mereka bertransformasi dari pabrik konveksi menjadi perusahaan maklon skincare di Donorejo, Secang, Kabupaten Magelang.
Wahyu masih ingat betul masa kejayaan mereka sebelum 2020. Ia dan istrinya mengelola pabrik konveksi pakaian wanita yang mempekerjakan lebih dari 100 orang. Produk mereka laku keras, bahkan sempat mengisi gerai di sejumlah mal besar di Jogja.
Ketika pandemi melanda, pesanan berhenti total. Gudang penuh, tetapi tidak ada pembeli. Ia terpaksa meminta para karyawan mencari pekerjaan lain karena tidak mampu lagi membayar gaji. Namun, sebagian besar justru memilih bertahan.
"Saya bahkan sempat jual makanan ringan dalam toples kecil. Hasilnya saya pakai buat gaji karyawan. Itu masa paling berat," katanya di pabrik, beberapa hari lalu.
Namun di tengah kejatuhan itu, seberkas peluang muncul dari dunia yang sama sekali berbeda, yakni industri kecantikan. Sang istri, Keiki mengaku, peralihan itu berawal dari hal sederhana, yaitu komentar orang-orang di media sosial.
"Saat saya review produk skincare lain, banyak yang tanya, 'kok kulitnya bagus, pakai apa?' Dari situ saya mikir, apa jualan skincare saja ya?" ujarnya tersenyum.
Keiki mencoba menjual produk skincare bermerek sendiri, hanya untuk membuktikan. Tak disangka, produknya laku. Banyak pelanggan menyukai hasilnya dan mulai meminta dibuatkan versi mereka sendiri.
"Banyak yang bilang, 'aku mau produk kayak gini, tapi pakai merek aku sendiri, bisa nggak?' Nah, dari situ saya sadar, ternyata ada pasar untuk jasa maklon," sambungnya.
Dari permintaan kecil itulah, pasangan ini mulai mencari mitra pabrik skincare di beberapa daerah. Mereka belajar dari nol tentang bahan aktif, kandungan, proses uji laboratorium, hingga pengurusan izin BPOM.
"Kami sempat jadi marketing di pabrik lain, sekalian belajar. Sampai akhirnya teman bilang, kenapa nggak bikin pabrik sendiri saja," timpal Wahyu.
Namun, mendirikan pabrik bukan perkara mudah. Mereka butuh waktu dua tahun hanya untuk mengurus izin dan memenuhi berbagai persyaratan produksi kosmetik. Namun kerja keras itu akhirnya berbuah hasil. Pada Januari 2025, izin resmi keluar dan Mei 2025 Superbella resmi beroperasi di Magelang.
Kini, sekitar 30 karyawan bekerja di bawah naungan Superbella. Pabrik mereka melayani pembuatan produk wajah dan tubuh, dari sabun, toner, hingga serum, yang dipasarkan ke berbagai daerah bahkan sampai ke luar negeri.
Menariknya, produk-produk hasil olahan Superbella tidak dijual dengan nama merek mereka sendiri. Sebagai perusahaan jasa maklon, Superbella membantu pelanggan membuat produk skincare dengan merek pribadi masing-masing.
"Jadi, di sini nama Superbella di kemasan itu untuk 'diproduksi oleh'. Customer kami yang akan menjualnya dengan brand mereka sendiri," ujar Keiki.
Tak hanya produksi, mereka juga membantu klien mengurus izin edar ke BPOM agar produk yang dijual legal dan aman. Cara kerja seperti ini kini makin diminati, terutama oleh pelaku usaha muda yang ingin memiliki brand kecantikan sendiri tanpa harus memiliki pabrik.
Keiki mengaku, meski tak punya latar belakang di bidang kecantikan, ia dan suaminya terus belajar. Mereka mempelajari komposisi bahan aktif, manfaat kandungan, hingga tren pasar kecantikan yang terus berubah.
"Kami belajar, kalau mau mencerahkan pakai bahan apa, kalau mau melembapkan kandungan apa. Semua harus riset," tuturnya.
Konsistensi dan keberanian mencoba hal baru inilah yang menjadi fondasi kuat mereka. Kini, di bawah perusahaan Superbella, mereka tidak hanya membangun bisnis, tapi juga membuka lapangan kerja baru di kampung halaman.
Berbeda dengan masa lalu yang penuh kejar target omzet, kini pasangan ini memilih menjalani bisnis dengan tenang. Sebab, dulunya mereka juga pernah berada di level tertinggi. Namun justru melelahkan.
"Sekarang dijalani seadanya saja. Tapi kalau ada peluang baru yang sesuai kebutuhan masyarakat, kami tetap akan berusaha," kata ibu dua anak itu.
Mereka sadar, industri kecantikan akan terus tumbuh. Konten skincare kini membanjiri media sosial, dan permintaan untuk produk lokal meningkat pesat. Superbella ingin menjadi bagian dari gelombang itu, namun dengan langkah realistis, perlahan tapi pasti. (laz)