RADAR JOGJA - Suasana berbeda tampak di SMK Pangudi Luhur Muntilan, Kabupaten Magelang, Selasa (30/9/2025). Di satu ruangan, siswa muslim lantang melantunkan ayat suci Alquran. Sementara di ruang lain, siswa Katolik dan Kristen membaca Injil, menyanyi mazmur, atau menyampaikan renungan.
Semua berlangsung dalam satu rangkaian lomba dan disatukan oleh semangat yang sama, membangun toleransi. Perlombaan ini merupakan bagian dari peringatan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) yang diperingati saban bulan September.
Menariknya, meski sekolah ini berbasis Katolik, mayoritas siswanya justru beragama Islam, sekitar 60 persen. Sedangkan sisanya Katolik dan Kristen. Kondisi inilah yang kemudian mendorong panitia mengemas lomba-lomba dengan melibatkan dua agama sekaligus.
Ketua Panitia BKSN Kinaranti Anjani mengutarakan, panitia ingin kegiatan ini tidak hanya bernuansa seremoni saja. "Tetapi juga jadi sarana menumbuhkan toleransi di antara siswa," bebernya di sela perlombaan.
Anjani menyebut, ada enam cabang lomba yang digelar. Yakni azan, baca Alquran, dan kaligrafi untuk siswa muslim, serta baca alkitab, menyanyi Mazmur, dan renungan untuk siswa Katolik dan Kristen. Pesertanya merupakan perwakilan kelas dari tingkat X hingga XII.
Kepala SMK Pangudi Luhur Muntilan Bruder Totok Tri Nugroho menegaskan, kegiatan ini lahir dari kesadaran akan keberagaman di sekolah. Karena itu, lomba kitab suci ini disesuaikan dengan keyakinan masing-masing. "Kami sadar anak-anak kami agamanya bermacam-macam dan semua punya kitab suci yang diyakini kebenarannya," jelasnya.
Dia menambahkan, sejak lama sekolah sudah berusaha menjaga harmoni. Saat Ramadan misalnya, pihak sekolah memfasilitasi buka puasa bersama hingga salat berjamaah yang diorganisasi siswa muslim sendiri. "Prinsipnya kami ingin membangun keberagaman, ingin membangun persatuan. Itu dimulai dari sekolah ini," tambah Totok.
Melalui lomba-lomba lintas agama ini, SMK Pangudi Luhur Muntilan ingin menegaskan satu pesan sederhana. Yakni keberagaman tidak perlu jadi pemisah, justru bisa menjadi ruang belajar hidup berdampingan.
"Pesannya jelas, menjaga toleransi. Bukan hanya di sekolah, tapi juga di masyarakat. Kadang gesekan itu ada, tapi kegiatan seperti ini bisa menjembatani," paparnya.
Yang menarik, lomba baca Alquran kali ini digelar di salah satu ruang kelas yang dindingnya terpajang tanda salib. Meski sederhana, momen ini menyimpan makna mendalam tentang bagaimana ruang lintas iman bisa saling memberi tempat.
Salah seorang juri lomba baca Alquran Muh Mubasyir mengaku terkesan. "Ini bagus sekali, meski sekolahnya non-muslim, tetap memberi perhatian pada siswa muslim. Ini cara yang baik untuk menyemangati anak-anak agar lebih giat membaca Alquran," lontarnya.
Peserta membaca dua ayat dari surat Al-Baqarah. Dari 17 pendaftar, 14 hadir mengikuti lomba. Mubasyir menilai, kemampuan mereka masih beragam. Namun semangat dan kesempatan yang diberikan jauh lebih berarti.
"Yang penting ada perhatian. Karena pada akhirnya, yang kita harapkan adalah anak-anak tumbuh menjadi pribadi baik dengan keyakinan masing-masing," ujarnya.
Bagi para siswa, lomba ini bukan sekadar ajang unjuk kemampuan, melainkan juga ruang untuk menunjukkan identitas sekaligus kebersamaan. "Senang sekali bisa ikut lomba azan. Rasanya ini jadi rutinitas tiap tahun yang bikin kami yang muslim tetap bisa mengembangkan kemampuan," kata Ahmad Rafli Ramadhan, siswa kelas XI Teknik Mesin.
Dia menambahkan, meski bernuansa Katolik, pihak sekolah memberikan fasilitas kepada siswa muslim. Bahkan tak segan memberikan ruang khusus untuk ibadah. "Kalau Zuhur dan Asar, kami bisa salat bersama di situ. Ruangan sudah dilengkapi sajadah dan mukena," tambahnya. (aya/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita