KEBUMEN - Perkumpulan Tosan Aji Brajabumi Kebumen telah sukses melangsungkan Musyawarah Luar Biasa (MLB), Jumat (26/9) malam. Dalam forum tersebut mayoritas anggota sepakat memilih Sugeng Winarto sebagai ketua terpilih Brajabumi periode 2025-2030.
Sugeng terpilih secara aklamasi melalui forum MLB. Dia dipercaya sebagai nahkoda baru organisasi bagi para pecinta sekaligus pelestari benda pusaka di Kebumen. Sosok Sugeng kini resmi menggantikan kepemimpinan Setyo Budi.
"Mas Sugeng dipilih berdasar hasil voting. Semua sesuai ketentuan tatib (tata tertib) yang telah dibacakan," ucap Ketua Panitia MLB Brajabumi Kebumen Unggul Pambudi.
Baca Juga: KONI DIY Apresiasi Menpora Erick Tohir soal Pencabutan Permenpora No 14 Tahun 2024
Unggul mengatakan, MLB sengaja digelar berdasar hasil kesepakatan internal antar pengurus dan anggota Brajabumi. Dia mengungkapkan, ada beberapa faktor sehingga MLB terpaksa dilaksanakan. Antara lain kondisi tata kelola organisisi yang dinilai berjalan kurang baik.
Secara eksplisit, disebutkan pengurus terdahulu dalam membawa roda organisasi kurang terbuka atau transparan dalam hal menejemen keuangan. Kemudian, adanya dugaan pelanggaran etik yang menjadi keresahan bersama. "Sudah komunikasi, dari dewan penasehat sudah bersurat. Tapi tidak ditanggapi serius, maka ada inisiasi MLB," ungkapnya.
Baca Juga: Inspira Roasters Yogyakarta Kembali Hadirkan: Mindbrewing: Bar Take Over & Expert Talk
Sementara itu, Dewan Pembina Brajabumi KRT Darori Wonodipuro mengatakan, MLB menjadi bagian penting sebagai ajang konsolidasi, merapatkan barisan di antara para pengurus organisasi. Dia tak ingin perjalanan Brajabumi terganggu akibat tata kelola organisasi tidak optimal.
Menurutnya musyawarah dalam pergantian kepemimpinan ini juga memiliki makna regenerasi dan kaderisasi kepengurusan. "Ya, bisa dikata penyegeran pengurus karena mengurus organisasi itu tidak gampang," jelasnya.
KRT Darori berharap pengurus baru dapat menjaga amanah dan membawa gerbong Brajabumi sebagai wadah yang terus menghidupkan Tosan Aji. Dia juga berpesan agar seluruh pengurus dan simpatisan tidak lelah dalam merawat tradisi dan budaya Jawa.
"Ini organisasi perjuangan. Kalau istilah saya Samirun. Sami-sami urun, bisa udu (sumbang) doa, tenaga dan fikiran. Bukan soal uang," pesannya. (fid)
Editor : Sevtia Eka Novarita