KEBUMEN - Para nelayan di Pantai Karangduwur, Kecamatan Ayah memutuskan untuk libur melaut. Mereka enggan ambil risiko seiring tingginya ombak pantai selatan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini membuat aktivitas di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangduwur tampak sapi dibanding hari biasanya.
Nelayan asal Desa Karangduwur Saimun, 46, mengatakan, cuaca ekstrem menjadi ancaman tersendiri bagi para nelayan. Tingginya gelombang laut belakangan ini dinilai terlalu berbahaya untuk nelayan yang menggunakan kapal tradisional. "Mulai kemarin libur. Risiko nyawa sih," kata Saimun saat dihubungi Radar Jogja, Selasa (29/7).
Dia belum mengetahui pasti kapan para nelayan kembali melaut. Namun, yang pasti aktivitas nelayan akan berangsur seperti hari biasa seiring kondisi cuaca di pesisir kembali normal. "Mungkin bisa tiga hari ke depan masih libur. Lihat sikon (situasi dan kondisi) saja," jelasnya.
Berdasar informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap, ketinggian gelombang laut di perairan selatan Cilacap, Kebumen dan Purworejo berkisar antara 2,5 hingga empat meter atau kategori tinggi. Prediksi ini berlaku mulai 28-31 Juli 2025. Selama empat hari itu hembusan angin bertiup dari timur hingga tenggara dengan kecepatan berkisar lima knot sampai 25 knot.
Sementara itu, Kepala BPBD Kebumen Udy Cahyono meminta agar masyarakat memperhatikan prediksi cuaca secara berkala. Dia juga mengimbau kepada nelayan di pesisir selatan untuk tetap waspada terhadap ancaman angin kencang dan gelombang tinggi. "Masyarakat yang beraktivitas di pantai harap lebih hati-hati. Kondisi ini paling tidak sampai tiga hari ke depan," imbaunya.
Udy menerangkan, saat ini sebagian besar wilayah sedang menghadapi musim kemarau basah. Oleh karena itu masyarakat diminta memperhatikan berbagai hal, mulai dari perubahan cuaca hingga intensitas hujan disertai angin. "Dari kemarin Kebumen diguyur hujan. Perlu diperhatikan segala potensi bencana," bebernya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo