Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Viral Video Lele Berbelatung di Program MBG Muntilan Magelang, Begini Tanggapan Sekolah dan Pengelola

Naila Nihayah • Jumat, 25 Juli 2025 | 20:55 WIB
Penanggung Jawab Yayasan Al Fath Islamic Center (AIC) Muntilan saat menunjukkan lauk lele yang diberikan kepada siswa pada Kamis (24/7/2025).
Penanggung Jawab Yayasan Al Fath Islamic Center (AIC) Muntilan saat menunjukkan lauk lele yang diberikan kepada siswa pada Kamis (24/7/2025).

MUNGKID – Sebuah video yang menampilkan menu makan bergizi gratis (MBG) berupa lele diduga berbelatung viral di media sosial. 

Hal tersebut praktis memicu kehebohan publik. 

Kejadian itu disebut-sebut terjadi di sebuah sekolah di wilayah Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. 

Dalam video yang tersebar di Instagram pada Kamis (24/7/2025), tampak seporsi lele goreng yang disebut sebagai bagian dari menu MBG diduga mengandung belatung. 

Netizen merespons dengan beragam komentar. 

Sebagian besar menyayangkan kualitas dan pengawasan dalam distribusi makanan untuk pelajar.

Pihak sekolah yang disebut dalam video, yakni SMK Pangudi Luhur Muntilan. 

Sekolah pun mengakui bahwa insiden tersebut memang terjadi di lingkungan mereka. 

Kepala SMK Pangudi Luhur Muntilan Totok Tri Nugroho mengatakan, sudah mengonfirmasi langsung ke para siswa.

"Kami tidak menampik, itu memang kejadian di sekolah kami." 

"Kami meyakini itu lele dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)." 

"Tapi ini harus jadi bahan evaluasi, tidak hanya bagi pengelola, tapi juga pihak sekolah," kata Totok di kantornya, Jumat (25/7/2025).

Dia juga menyoroti kurangnya prosedur penanganan saat kejadian berlangsung. 

Mestinya, makanan yang ditemukan bermasalah tidak langsung dibuang atau dikembalikan. 

Melainkan dibedakan supaya dapat dijadikan bahan evaluasi.

Sekolah pun berencana melakukan evaluasi menyeluruh pada Agustus 2025. 

Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah pendataan ulang siswa yang benar-benar membutuhkan makanan itu melalui formulir daring. 

Hal ini untuk mencegah mubazir dan memastikan makanan diterima oleh yang membutuhkan.

Totok juga menyarankan agar menu lele dievaluasi kembali sebagai bagian dari program MBG. 

Dia menilai, lauk lele cukup riskan. 

Menurutnya, ketika lele tidak dibelah, matangnya tidak merata. 

Lain halnya dengan daging ayam yang bisa dipastikan matang. 

Perbedaan keterangan muncul soal bentuk dan ciri lele yang dipermasalahkan. 

Namun, Totok menyatakan, ciri lele yang diterima siswa masih sesuai dengan yang biasa dikirim SPPG. 

Dia menegaskan, kejadian ini bisa jadi disebabkan oleh human error, baik dari proses pemasakan atau distribusi.

"Ada lele yang seharusnya tanpa kepala, ternyata masih ada kepala." 

"Itu berarti bisa saja terjadi kesalahan."

"Tapi kami tidak menyalahkan, ini harus jadi pembelajaran," katanya.

Pihak sekolah pun tidak menutup-nutupi kejadian tersebut.

Totok menilai, program MBG sebagai inisiatif baik pemerintah yang harus tetap dijalankan, namun dengan pengawasan dan evaluasi lebih ketat.

Ditemui terpisah, mitra SPPG sekaligus Penanggung Jawab Yayasan Al Fath Islamic Center (AIC) Muntilan Eko Praharjono menyatakan, lele yang mereka kirim biasanya masih memiliki separuh kepala dan berukuran sedang.

Sedangkan dalam video viral, lele terlihat lebih besar dan tanpa kepala. 

Hal ini disebut menjadi alasan pengelola ingin mengecek ulang asal-usul makanan tersebut.

Baca Juga: Skuad PSIM Jogja Segera di Launching di Mandala Krida! Akan Ada Laga Uji Coba, Ini Lawan Yang Dihadapi dan Waktu Peluncurannya...

Sebab, SPPG memastikan menu yang dibagikan telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP).

Dia juga mempertanyakan mengapa hanya satu kasus yang muncul dari total ribuan paket makanan yang didistribusikan setiap hari. 

Menurut Eko, menu Kamis (24/7/2025) memang berisi lele goreng, tahu, pisang, nasi, dan sayur wortel serta caisin.

Dia menjelaskan, bahan baku lele sudah dibersihkan oleh supplier sebelum dikirim ke dapur, lalu diproses sore hingga malam.

Barulah dimasak mulai pukul 01.00 oleh juru masak.

"Masakan dari dapur kami disiapkan secara fresh, tidak disimpan berhari-hari."

"Kami mendistribusikan 3.400 paket makanan ke 36 sekolah, dari PAUD sampai SMA."

"Kalau memang dari dapur kami, mengapa hanya satu yang bermasalah?" paparnya. 

Dia pun masih menunggu hasil konfirmasi dan bakal melakukan evaluasi terhadap menu yang dibagikan kepada pelajar. (aya)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kabupaten Magelang #Kecamatan Muntilan #MBG Basi #Makan Bergizi Gratis #MBG belatung #MBG ada belatung