Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tradisi Nyadran di Tegalrejo Magelang Masih Lestari: Warga Berdoa dan Makan Bersama untuk Jalin Kebersamaan, Begini Prosesinya

Naila Nihayah • Selasa, 14 Januari 2025 | 23:37 WIB

 

KEMBUL BUJANA: Warga Dusun Sorobayan, Banyuurip, Tegalrejo kompak makan bersama usai rangkaian kegiatan sadranan di halaman masjid setempat, Selasa (14/1/2025).
KEMBUL BUJANA: Warga Dusun Sorobayan, Banyuurip, Tegalrejo kompak makan bersama usai rangkaian kegiatan sadranan di halaman masjid setempat, Selasa (14/1/2025).

MUNGKID - Sadranan atau nyadran menjadi momentum yang dinantikan warga, khususnya di Dusun Sorobayan, Banyuurip, Tegalrejo.

Hari ini (14/1/2025), mereka meninggalkan pekerjaannya sejenak. Suasana keakraban dan kebersamaan pun terasa hangat.

Mereka duduk di atas tikar, memanjatkan doa, makan bersama, hingga saling bercengkerama.

Sedari pagi, warga sibuk dengan aktivitas memasak. Saat nyadran, setiap rumah diwajibkan untuk membawa olahan makanan dengan berbagai lauk pauk.

Dulunya, mereka akan memasukkan makanan itu ke dalam tenong atau bakul bundar.

Tapi sekarang, banyak warga yang lebih memilih untuk membawa rantang maupun wadah lainnya.

Nyadran ini dilangsungkan saban bulan Rajab, antara tanggal 10-15 di hari Legi dalam penanggalan Jawa.

Biasanya, tradisi nyadran ini berlangsung di pemakaman. Namun, warga Dusun Sorobayan sepakat untuk menyelenggarakannya di depan Masjid Al-Ikhsan.

Anak-anak hingga orang dewasa duduk lesehan di depan masjid dan sepanjang jalan dusun setempat.

Kepala Dusun Sorobayan Soleh mengatakan, tradisi nyadran dimaknai sebagai wilujengan atau selamatan dusun.

Tradisi ini diawali dengan kerja bakti membersihkan makam pada Minggu (12/1/2025).

Dia menyebut, tradisi ini sudah dilakukan secara turun-menurun dan masih lestari hingga sekarang.

Menurutnya, sadranan dapat menjadi momentum untuk mengumpulkan balung pisah atau mempersatukan saudara dari berbagai daerah.

Serta merekatkan hubungan antarwarga setempat.

"Ahli waris yang sudah menyebar ke luar dari Sorobayan, mereka pulang ikut berdoa dan makan bersama," katanya usai kegiatan.

Warga akan menyiapkan makanan lengkap dengan lauk pauk. Lalu, warga akan berkumpul di suatu tempat, di makam atau depan masjid untuk doa bersama dan kembul bujana.

Ketika makanan yang dibawa habis tidak bersisa, kata dia, warga akan merasa senang. Itu berarti, sedekah yang diberikan, diterima oleh warga.

Selain itu, dia menyebut, warga akan mendoakan para leluhur yang sudah meninggal.

"Kami membawa sedekah berupa makanan dan kelengkapannya. Sebagian juga disedekahkan kepada tamu undangan yang hadir maupun penjual makanan (yang datang berjualan)," bebernya.

Soleh mengatakan, tradisi sadranan di dusunnya rutin dilaksanakan setiap Rajab.

Tidak hanya warga Dusun Sorobayan saja yang mengikuti tradisi ini, tapi juga dari Dusun Ngepos.

Terutama bagi mereka yang memiliki leluhur di dusun tersebut.

"(Intinya) berdoa untuk keselamatan dusun, warga, dan mendoakan para leluhur yang sudah mendahului agar diampuni segala dosa dan diterima amal ibadahnya," tegas Soleh.

Seorang warga Dusun Sorobayan Nur Abah mengaku sangat antusias terhadap tradisi nyadran.

Dia mengatakan, banyak warga yang memaknai sadranan sebagai hari yang sangat spesial.

Sebab seluruh warga akan berkumpul menjadi satu untuk bersilaturahmi. Termasuk sanak saudara yang datang dari luar daerah.

Biasanya, dia akan membawa ingkung dan berbagai lauk tradisional untuk dimakan bersama serta dibagikan kepada warga.

"Kami juga mengirim doa untuk arwah kubur keluarga masing-masing. Jadi nyadran kali ini, Alhamdulillah sangat ramai sekali daripada tahun kemarin," ujar dia. (aya)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#tradisi nyadran #Kabupaten Magelang #Sadranan #Mungkid #Tegalrejo Magelang