MUNGKID - Ibu-ibu PKK di Desa Tegalarum, Borobudur memiliki inovasi unik dalam memanfaatkan pohon pisang. Selain buahnya, jantung, bonggol, dan pelepah pohon pisang diolah menjadi keripik yang memiliki nilai jual. Namun, pohon pisang yang digunakan tidak sembarangan, hanya jenis kepok dan klutuk.
Olahan dari pohon pisang ini sudah diinisiasi sejak 2022 silam. Ada berbagai produk yang dibuat. Seperti keripik jantung, bonggol, hingga pelepah pisang. Keripik tersebut diolah sedemikian rupa hingga layak dikonsumsi.
Hanya saja, pohon pisang yang digunakan hanya jenis kepok dan klutuk. Sebab kedua jenis pohon pisang itu lebih mudah diolah. Ketika menggunakan pohon pisang jenis lain, warnanya akan berubah membiru. "Dari segi tekstur, yang bisa diolah hanya kedua jenis itu. Kami pernah coba (jenis) yang lain, malah tidak jadi (keripik)," ujar anggota PKK Desa Tegalarum, Tempuran Siti Qoniah, Jumat (29/11).
Untuk menghasilkan keripik yang bisa dikonsumsi, ada sejumlah tahapan yang harus dilakukan. Mula-mula, pelepah pohon pisang diiris tipis, direndam air kapur dan garam beberapa menit, lalu dicuci bersih. Setelah itu, dicampur dengan bumbu dan didiamkan beberapa menit. Barulah diberi tepung terigu dan tapioka. Begitu tercampur rata, adonannya bisa digoreng dan ditiriskan.
Proses itu juga bisa diaplikasikan untuk membuat keripik jantung pisang. Sementara pembuatan keripik bonggol pisang, sedikit berbeda. Pertama, bonggol pisang ditumbuk. Lalu, disiram air mendidih dan garam. Kemudian, diperas untuk menghilangkan getahnya. Setelah itu, baru dibumbui, dicampur sedikit tepung tapioka, digulung, diiris tipis, dan bisa digoreng atau dikukus. Barulah dikemas.
Qoniah mengatakan, tiga jenis keripik itu bisa tahan hingga tiga bulan lamanya. Ada sejumlah kendala yang dialami. Utamanya berkaitan dengan bahan baku karena dirasa susah.
"Warga mending nunggu sampai berbuah daripada dijual pohonnya. Karena kita belinya pohon pisang yang belum berbuah. Satu pohon kita beli Rp 25 ribu," sebut Qoniah.
Biasanya, satu pohon pisang bisa menghasilkan sekitar 1,5 kilogram keripik pelepah pisang. Satu kemasan dijual dengan harga Rp 10 ribu yang berisi 200 gram. Begitu pula dengan keripik jantung dan bonggol pisang. Ada dua varian rasa, yakni original dan balado.
Untuk penjualannya, lanjut dia, masih terbatas di Kecamatan Borobudur. Karena sebagian besar orang masih belum begitu tertarik dengan keripik tersebut. Padahal, Qoniah bersama teman-temannya sudah melakukan riset terhadap manfaat dari pohon pisang itu.
Karena itu, segi pemasarannya masih perlu dikembangkan lagi. "Tidak tentu (penjualannya). Tapi, kami juga menerima pesanan. Kalau ada (pesanan), kami buatnya dadakan. Kadang mereka masih belum percaya. Ini (keripik) bikin gatal atau tidak," bebernya. (pra)
Editor : Heru Pratomo