RADAR JOGJA - Komunitas Brayat Penangkaran Borobudur terus berupaya membangun nilai spiritualitas Candi Borobudur melalui seni tradisi yang diwujudkan dalam kegiatan pepadang kapitayan. Ritual dikaitkan dengan pengharapan masyarakat terhadap Candi Borobudur agar dapat menyinari dan memberi energi positif.
Tokoh budaya Brayat Penangkaran Borobudur Sucoro menjelaskan, pepadang kapitayan berarti sebuah harapan terhadap sesuatu agar menjadi terang. "Kapitayan itu menjadi bagian penting dari keberadaan Borobudur. Di mana sebelum ada Buddha, Hindu, dan macam-macam kepercayaan lain, sudah ada yang namanya kapitayan," ungkapnya Kamis (15/8).
Hanya saja, kata dia, ritual pepadang kapitayan tidak memiliki ruang dan terkesan ditinggalkan. Sehingga pada momentum Ruwat-Rawat Borobudur (RRB) ke-22 ini, sejumlah seniman turut andil dalam melaksanakan ritual tersebut. Agar keberadaannya tidak dilupakan oleh masyarakat. Selain itu, ritual menjadi satu upaya untuk melihat nilai-nilai spiritualitas pada Candi Borobudur.
Menurutnya, nilai spiritual itu tidak hanya dipahami sebatas mengenai agama saja. Karena Borobudur bisa dilihat dari ruang kepustakaan yang pantas untuk digali pengetahuannya. Begitu pula dengan seni tradisi yang sudah melekat di masyarakat. "Fisiknya dirawat oleh Museum dan Cagar Budaya (MCB) Borobudur dan dimensi spiritualnya kami kawal selama 22 tahun," ujarnya.
Dia menambahkan, ada sejumlah kegiatan pendukung lain yang dilakukan untuk memperingati RRB ke-22. Seperti pendampingan seni tradisi, workshop, sarasehan, bincang budaya, hingga penulisan opini dengan tema Menelisik Spiritualitas Borobudur melalui Keberagaman Budaya dan Kearifan Lokal. Selain itu, ada pula hibah 1.056 buku tentang catatan pengelolaan Borobudur.
Dirjen Bimas Buddha Kemenag Supriyadi mendukung penuh upaya yang dilakukan Komunitas Brayat Penangkaran Borobudur. Apalagi rangkaian kegiatannya dikaitkan dengan menggali lebih dalam nilai spiritualitas Candi Borobudur. Hal itu dalam rangka memberikan sebuah makna terhadap candi Buddha terbesar di dunia itu.
Sementara itu Koordinator MCB Unit Borobudur Wiwit Kasiyati mengemukakan, RRB dalam dua tahun terakhir tidak hanya menggelar festival seni budaya. Tetapi juga sudah mengarah ke ilmu pengetahuan.
"Candi Borobudur tidak hanya dipandang dari aspek pariwisata, tapi juga aspek spiritualitasnya. Candi Borobudur ini milik Indonesia, dunia, semua agama, masyarakat lokal, yang harus bersama-sama dijaga dan dilestarikan," tegasnya. (aya/laz)