RADAR JOGJA - Dari namanya, Keyko Hessi Miss'ida, bukanlah dari Jepang. Tapi dia berani menolak pekerjaan ke Jepang untuk menjadi wakil rakyat di DPRD Kebumen. Berusia 21 tahun dia e membuktikan kursi parlemen berhak diduduki siapa saja.
Raut wajah lelah masih terpancar pada sosok Keyko Hessi Miss'ida. Sesekali dia batuk dan flu. Tanda fisik kurang begitu fit. Dia menganggap kondisi itu adalah akumulasi dari sebuah perjuangan seorang caleg terpilih.
Namun, lelah dan meriang pun kini tak dirasa. Saat dia melihat perolehan suaranya pada Pemilu 2024 mampu bertengger di urutan puncak. Keyko merupakan caleg termuda dari PKB. Namanya masuk dalam daftar caleg terpilih untuk DPRD Kebumen periode 2024-2029.
Bila melihat komposisi, Keyko adalah caleg paling muda yang bakal melenggang ke gedung dewan. Dia sementara unggul dari caleg lain dengan perolehan 6.621 suara by name. Keyko merupakan caleg dari daerah pemilihan Kebumen 1 meliputi Kecamatan Kebumen dan Buluspesantren. "Tidak pernah nyangka. Kemarin merasa jadi caleg itu masih aneh. Sekarang harus berpikir ke depan," kata Keyko kepada Radar Jogja, Selasa (5/3)
Banyak kisah yang dia jalani selama tahapan Pemilu 2024. Salah satunya harus pintar membagi waktu. Sebab ketika dirinya maju sebagai caleg, dia masih berstatus mahasiswa akhir. Seringkali agenda kampanye pemilu terbentur jadwal bimbingan skripsi. Paling berkesan bolak-balik Kebumen-Semarang. “Saya kan harus selesaikan kuliah. Skripsi belum rampung, ditambah keliling buat kampanye," ucapnya.
Layaknya fisik seorang perempuan, dia juga sempat masuk rumah sakit karena tak kuasa menjalani dua lakon sekaligus. Jadi caleg dan mahasiswa dengan setumpuk tugas akhir. Kendati begitu, seluruh proses tetap dilewati demi karir dan cita-cita. "Pas mau coblosan itu saya tumbang, kecapekan," ujarnya.
Keyko adalah lulusan Universitas Diponegoro Semarang 2023.
Dia mengambil jurusan bahasa asing terapan. Dari sisi kemampuan akademik, Keyko termasuk sosok yang cukup pintar. Terbukti, pascawisuda dia mendapat tawaran pekerjaan di Jepang. Namun tawaran itu ditolak, demi fokus Pemilu 2024. "Orang tua lebih merestuai saya maju caleg. Waktu itu sudah mau teken kontrak. Tapi ya itu, diganduli orang tua," katanya.
Caleg berparas ayu ini lebih memilih terjun ke dunia politik karena dapat dijadikan ruang pengabdian masyarakat. Selepas dilantik, anak ketiga dari pasangan Sutarwiyono dan Diwut ini berkomitmen untuk fokus memikirkan dunia pendidikan, terutama pendidikan pesantren dan madrasah. "Sempat ngobrol sama guru TPQ, gajinya cuma Rp 150 ribu. Ini kan kasihan," paparnya. (fid/pra)