Biasanya, melasti dilakukan di tirta amerta atau sumber mata air. Seperti di tepi laut atau danau. Namun, karena tidak ada laut, upacara ini digelar di Tuk Mas, Grabag.
Sebelum upacara melasti dilakukan, umat Hindu menggelar sembahyang di Pura Wira Bhuana. Mereka tampak khidmat melakukan sembahyang.
Tidak ketinggalan sejumlah taruna Akademi Militer (Akmil) Magelang turut mengikuti serangkaian upacara yang dilakukan.
Pemangku Pura Wira Bhuana Magelang I Gede Suardiasa menjelaskan, Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu merupakan simbol untuk menjaga keseimbangan pelestarian alam semesta.
Selain itu, Hari Raya Nyepi juga dilaksanakan sebagai sarana untuk introspeksi diri terkait sesuatu yang belum maupun telah dilakukan.
"Bulan ini dianggap bulan yang penuh tantangan. Itulah umat manusia harus mawas diri dan introspeksi diri. Dalam menyambut tahun baru berikutnya diharapkan akan lebih baik," ujarnya saat ditemui, Jumat (8/3/2024).
Menurutnya, agama Hindu tidak terlepas dari air atau biasa disebut agama tirta. Sehingga unguk menyambut Hari Raya Nyepi ini, umat Hindu menggelar upacara melasti. Yang ditandai dengan pengambilan air suci guna membersihkan dunia serta jasmani.
Dengan upacara itu, harapannya kekotoran yang ada di dunia maupun jasmani masing-masing bisa dibersihkan. "Kekotoran ini kita lepaskan. Sebetulnya di laut, kalau tidak ada laut, bisa di sumber air. Sehingga bisa menghanyutkan kekotoran yang ada di tubuh dan alam semesta," jelasnya.
Dalam prosesi pengambilan air tersebut, umat Hindu membawa umbul-umbul (penjor).
Para pemuda asal Bali yang tengah menempa pendidikan di Akmil Magelang menabuh gamelan Bali mengiringi umat dari jalan desa menuju sumber air Tuk Mas, Grabag.
Dia menuturkan, Tuk Mas Grabag dipilih sebagai tujuan pembersihan atau penyucian diri lantaran mata air tersebut sudah berusia tua.
Selain itu, di lokasi tersebut terdapat Prasasti Tuk Mas yang merupakan prasasti tertua di Jawa Tengah. Sekitar abad VI-VII.
Lebih-lebih, mata air tersebut sudah digunakan oleh para leluhur untuk melaksanakan hal yang sama. Karena mata air tersebut dianggap sebagai Sungai Gangga di Pulau Jawa. "Kami meneruskan dari para leluhur yang ada di sini," katanya.
Penyucian ini, kata dia, harapannya Tahun Baru Nyepi mendatangkan suasana baru dan hening.
Di tahun berikutnya, umat Hindu bisa membuka lembaran baru dengan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Suardiasa menuturkan, setelah dari Tuk Mas, air suci tersebut dibawa ke Pura Wira Bhuana Magelang.
Sesampainya di pura, ada upacara Mendak Tirta atau menyambut air.
Kemudian, air dalam beberapa jeriken dan galon tersebut diletakkan di padmasari sekitar satu jam. Untuk selanjutnya digunakan persembahyangan.
Editor : Bahana.