Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berpeluang Geser Madagaskar, Vanili Jadi Tanaman Investasi Manfaatkan Pekarangan, Tidak Perlu Modal Banyak

Naila Nihayah • Rabu, 3 Januari 2024 | 03:55 WIB
BUDI DAYA: Irul tengah memperlihatkan vanili di pekarangan rumahnya. Dia bersama sejumlah warga aktif mengembangkan budi daya vanili. (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
BUDI DAYA: Irul tengah memperlihatkan vanili di pekarangan rumahnya. Dia bersama sejumlah warga aktif mengembangkan budi daya vanili. (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)


MUNGKID - Sejumlah warga Salaman, Kabupaten Magelang, memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk ditanami vanili.
 
Vanili merupakan satu tanaman yang bisa menjadi peluang investasi jangka panjang. Sebab, harga satu kilogram (kg) vanili bisa dihargai Rp 750 ribu hingga Rp 1,5 juta.

Ketua BUMDes Artha Manunggal Kebonrejo, Salaman Moh Khairul Saleh menilai, prospek tanaman vanili sangat luar biasa.
 
 
Sebab, kebutuhan global setiap tahunnya bisa mencapai hampir 10 ribu ton. Sementara Indonesia bisa memberi sokongan sekitar 200 hingga 300 ton saban tahun.

Sebetulnya, kata dia, Indonesia mempunyai peluang untuk menggeser Madagaskar yang menjadi penyuplai terbesar vanili.
 
"Apalagi Indonesia memiliki tanah yang subur daripada di Madagaskar. Ditambah dengan proses tanamnya yang cukup mudah," bebernya saat ditemui, Selasa (2/1).
 
Baca Juga: Perkuat Toleransi Beragama sejak Dini, MTsN 9 Bantul Gelar Doa Lintas Iman

Tanaman yang memiliki nama latin Vanilla Planifolia ini memang tergolong mudah dikembangbiakkan. Irul menyebut, vanili bisa ditanam di pekarangan rumah hingga tabulampot.
 
Dengan luasan sekitar 5 x 6 meter, petani bisa menanam beberapa pohon vanili. Ketika berbuah, satu pohon bisa menghasilkan hingga dua kg vanili.

Adapun masa panen vanili dari polinasi sampai petik membutuhkan waktu sekitar delapan hingga sembilan bulan. Tergantung ketinggian lokasi penanaman.
 
"Itu (masa panen) kalau di 300 mdpl seperti Salaman ini. Tapi, kalau lebih dari 1.000 mdpl, itu (masa panen) hampir satu tahun," lontarnya.
 
Baca Juga: Stasiun Tugu dan Lempuyangan Bakal Direvitalisasi Kemenhub, Upaya Peningkatan Pelayanan dan Diperindah

Irul menambahkan, vanili merupakan tanaman investasi. Sebab, ketika musim panen tiba, petani bisa menyimpannya terlebih dahulu.
 
"Kalau panen dan kita (petani) belum butuh uang, bisa disimpan dulu. Bahkan, masa simpannya sampai 20 tahunan. Itulah kenapa vanili disebut emas hijau," kata dia.

Saat ini, harga vanili belum begitu membaik usai pandemi. Sebab belum ada pasar ekspor secara besar-besaran. Penjualannya hanya dari konsumen ke konsumen. Praktis produksi vanili semakin berkurang dan harganya turun. Untuk vanili basah, dihargai Rp 100 ribuan per kg di tingkat petani.

Sementara vanili kering, lanjut Irul, tergantung kualitas kelas ekstraknya. Untuk ekspor kualitas terbaik, harganya kisaran antara Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per kg.
 
"Kalau di tingkat petani, harga vanili keringnya sekitar Rp 750 ribu sampai Rp 1,5 juta per kg," urainya.
 
Baca Juga: REI Sebut LSD Jadi Salah Satu Kendala Investasi Properti di DIY

Dia bersama petani lainnya tengah berupaya mengembangkan tanaman vanili di desanya. Tahun ini, dia belajar ekspor dan pada 2025 bisa menguasai pasar internasional.
 
Untuk itu, dia terus mengajak masyarakat setempat agar bersama-sama menanam vanili dengan pekarangan yang ada.

Warga Cepingsari, Salaman Irhamna mengakui, vanili menjadi tanaman yang menjanjikan. Sebab, dia bisa merenovasi rumah dari hasil penjualan vanili beberapa tahun lalu.
 
 
"Ada lahan sedikit, saya manfaatkan sebaik mungkin untuk ditanami vanili. Bisa nambah income," sebutnya.

Sekitar 2022, dia menanam sekitar 30-an tanaman vanili. Rencananya hanya untuk indukan. Namun, tanaman itu justru berbuah untuk pertama kali sekitar tiga bulan yang lalu.
 
Biasanya, vanili bisa dipanen ketika berusia delapan hingga sembilan bulan. Tergantung cuaca dan lokasi penanaman.
 
Baca Juga: Dalam Sehari, Dua Warga Bantul Ditemukan Tewas Gantung Diri

Vanili tersebut bisa dijual baik secara basah maupun kering. Bahkan, ketika harga di pasaran tinggi, petani vanili juga bisa meraup keuntungan yang tinggi.
 
"Dulu, sempat berbuah, tapi tidak laku. Akhirnya saya simpan. Setelah 10 tahunan, baru laku sekitar Rp 1,5 juta per kg," paparnya.
 
Baca Juga: Polres Purworejo Dalami Penemuan Mayat Bayi di Tepi Pantai Keburuhan

Irhamna menyebut, perawatan vanili tergolong mudah. Tidak perlu pupuk. Bisa dibiarkan begitu saja, asal kebutuhan air terpenuhi.
 
Ketika ada tanaman liar, barulah dibersihkan. Hanya saja, batang tanaman vanili juga mudah busuk ketika terlalu sering disiram air.
 
Selain itu, jarak antar tanaman juga menjadi satu faktor membusuknya batang vanili. (aya)
Editor : Amin Surachmad
#madagaskar #Vanili #investasi jangka panjang