RADAR JOGJA - Di sela kesibukannya sebagai kepala desa, Slamet punya kesibukan lain. Yaitu merawat orang dengan gangguang jiwa (ODGJ). Bukan perkara mudah merawat mereka. Tapi sudah 14 tahun dijalaninya. Seperti apa kisahnya?
Berada di ujung utara perbatasan Kebumen, terselip kisah tentang perjuangan sosok kepala desa yang begitu peduli dengan ODGJ. Ia adalah Slamet. Pria 44 tahun itu bahkan rela rumah pribadinya beralih fungsi sebagai tempat perlindungan bagi para ODGJ.
Empat belas tahun sudah Slamet hidup berdampingan bersama orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Ia begitu telaten mengurus orang yang selama ini terbuang dan dikucilkan. Laku hidup ini Slamet jalani tanpa menghitung untung-rugi.
Di tengah aktivitasnya sebagai kepala desa, Slamet tetap saja intens menjalankan aksi sosial tersebut. Ia merasa tak terganggu. Keberadaan ODGJ dianggap bukan suatu beban atau aib sosial. "Dikucilkan itu biasa. Justru jadi motivasi untuk terus berada di jalan kebaikan," katanya, Kamis (28/12).
Slamet mengaku sudah mendermakan sebagian hidupnya untuk merawat mereka yang selama ini terabaikan. Dari ketulusan tersebut ia dipercaya masyarakat untuk menangani ODGJ. Baginya, orang gangguan jiwa tetap memiliki kesamaan hak untuk hidup layak. "Sekarang ada lima orang (ODGJ). Yang penting ada surat pengantar atau sepengetahuan keluarga," ungkapnya.
Awalnya, Slamet hanya fokus menangani gelandangan pinggir jalan. Seiring waktu rumah pengobatannya juga menampung ODGJ. Rumah pengobatan yang dikelola tersebut berada di desa ujung utara Kebumen. Tepatnya di Desa Kedunggong, Kecamatan Sadang. Kebanyakan yang datang orang luar daerah. “Dulu saya punguti gelandangan. Kalau sudah terkonfirmasi keluarga, baru saya antar," jelasnya.
Baca Juga: Perempuan Wajib Coba! Berikut Rahasia Perawatan Kulit Wajah Ala Uni-Uni Korea
Sepanjang bercakap dengan wartawan Radar Jogja, Slamet bercerita kisahnya secara ringkas. Tentu tak lepas dari pembahasan suka dan duka dalam menjalani hidup bersama ODGJ. Slamet tampak paham diluar kepala soal metodologi penanganan ODGJ.
Selama pengobatan, para ODGJ diarahkan untuk beraktivitas yang bersifat pemberdayaan. Slamet juga menyediakan lahan agar para ODGJ memikiki keinginan untuk ikut bertani maupun berternak. "Mereka itu kumat karena kebanyakan nganggur akhirnya halusinasi. Saya arahkan di kebun, aktivitas semampunya," beber Slamet.
Dalam merawat ODGJ, Slamet selalu berpegang teguh pada pakem EMAS. Atau akronim metodologi dari empati, motivasi, aktivitas dan sosial. Metode ini sudah terbukti ampuh mengembalikan jalan hidup para ODGJ. Tak sedikit ODGJ yang datang ke Slamet, kini telah hidup normal bersama keluarga. Diakuinya, merawat orang stres itu kadang ikut stres. Tapi sampai sekarang belum ada kendala. “Misal ngamuk ke warga gitu. Karena saya arahkan ikut berimteraksi sosial," ungkap Slamet.
Rumah pengobatan ODGJ yang dikelola Slamet kini telah terbentuk secara legal sebagai Lembaga Kesehatan Sosial (LKS) dibawah naungan Dinsos PPKB Kebumen. Ia juga bekerjasama dengan rumah sakit yang dilengkapi bangsal jiwa. "Pasca dari bangsal, ada yang kesini. Saya koordinasi dengan RSUD Prembun dan PKU Gombong," jelasnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo