Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perkuat Spiritual, Umat Buddha Minta Chattra Segera Dipasang di Candi Borobudur

Naila Nihayah • Senin, 27 November 2023 | 20:14 WIB
BERDIRI KOKOH: Inilah penampakan struktur chattra hasil rekonstruksi Theodore van Erp. (Naila Nihayah/Radar Jogja)
BERDIRI KOKOH: Inilah penampakan struktur chattra hasil rekonstruksi Theodore van Erp. (Naila Nihayah/Radar Jogja)

 

RADAR JOGJA – Kalangan umat Buddha Indonesia sangat berharap rencana pemasangan chattra atau payung di puncak Candi Borobudur bisa segera diwujudkan.

Pemasangan chattra diyakini akan semakin memperkuat aspek spiritualitas dan menjadi kesempurnaan Borobudur sebagai tempat peribadatan.

Seorang biksu Bhante Ditthisampanno Thera menilai, chattra sangat dekat dengan pandangan serta ajaran agama Buddha. Secara harfiah, chattra bermakna payung atau pelindung yang merupakan mahkota sehingga dipasang puncak stupa.

Selain perlindungan, chattra juga bisa bermakna sebagai bentuk keberanian dan simbol kesucian tahapan spiritualitas.

Menurutnya, chattra itu melambangkan kesatuan unsur sehingga secara spiritual akan memberikan penguatan dan juga pengembangan keyakinan bagi umat Buddha.

Dari sisi spiritualitas, pemasangan chattra dinilai akan menambah kesempurnaan dari Candi Borobudur.

"Kami dari agamawan dan para biksu sangat mendukung sekali pemasangan chattra kembali. Tentu kami akan sinergikan dengan pihak lain. Kami berharap, rencana ini lebih lancar dan bisa diterima semua pihak," ujarnya.

Bhante Ditthisampanno mendorong agar Borobudur terus dikembangkan dari aspek kemanfaatan. Tak sebatas untuk peningkatan nilai spiritual, pengembangan Candi Borobudur ini juga bisa dilakukan pada sisi lain. Utamanya, pariwisata dunia.

Upaya ini, kata dia, diyakini tidak sulit karena pemerintah juga memiliki kebijakan yang searah. Yakni menjadikan Candi Borobudur sebagai destinasi pariwisata super prioritas (DPSP).

Dorongan pemasangan chattra juga disampaikan Stanley Khu, umat Buddha yang juga editor di Lamrimnesia, penerbit buku-buku tentang ajaran Buddhis.

Baca Juga: Penuh Haru, Wisudawan Universitas Tidar yang Meninggal karena Kanker Diwakili Ayahnya, Tiga Sahabatnya Uruskan Administrasi supaya Bisa Wisuda Bersama

Menurut Stanley, chattra memiliki perspektif filosofi spiritualitas yang sangat mendalam.

Dia menilai Candi Borobudur sebagai sebuah mandala tak akan terpisahkan dari elemen chattra atau payung mulia tersebut.

Menurutnya, eksistensi chattra pada sebuah stupa bukanlah soal simbol atau estetika di atas stupa semata. Ini dikarenakan stupa merupakan perlambang batin tercerahkan Buddha.

Stanley menyatakan, chattra merupakan perwujudan konkret dari nilai-nilai Buddhis. Dia meyakini, jika chattra bisa dipasang di stupa utama Candi Borobudur, maka akan menjadi penguat keyakinan bagi umat Buddha.

Dia mencontohkan dalam panel relief Candi Borobudur III 65 yang menggambarkan Maitreya kala mengajarkan Dharma di Tusita.

Terlihat dalam satu panel itu ada dua pesan yang sangat kontras. Lantaran pada saat pengajaran Dharma itu, juga tampak sisi kesukacitaan laksana di surga.

Dari Tusita ini menguatkan bahwa memaknai dunia tidak bisa terkungkung dalam satu aspek karena Borobudur juga menyimbolkan sesuatu yang semesta.

Dia juga memahami, perspektif ilmiah pemasangan chattra masih membutuhkan data-data pendukung untuk bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis dan sebagainya.

"Namun, sebagai umat seperti saya pendekatan keilmiahan itu menjadi tidak relevan lagi," bebernya.

Di sisi lain, pengembangan Candi Borobudur juga kian terbuka lebar karena dalam Undang-Undang No 11 Tahun 2011 tentang Cagar Budaya. Pemanfaatan Borobudur tak sebatas pada aspek perlindungan maupun penelitian semata.

Ketua Tim Pemugaran Tahap II Candi Borobudur Ismijono mengatakan, pengembangan dan pemanfaatan Borobudur perlu diperkuat dari aspek keilmuan lintas disiplin. Agar mendapatkan kesepakatan bersama.

Dia menyebut, chattra dalam persepsi rekonstruksi candi yang berorientasi pada aspek perlindungan, tidak memiliki data yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

"Tapi, tidak menutup kemungkinan dibahas dari sisi pengembangan dan pemanfaatan. Oleh karenanya, pemasangan chattra seyogyanya melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan," harapnya. (aya)

Editor : Amin Surachmad
#Candi Borobudur #Chattra #umat buddha