Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Viral Wisatawan Hendak ke Nepal Van Java, tapi Dipaksa Naik Ojek Bayar Rp 40 Ribu Pulang-Pergi

Naila Nihayah • Selasa, 29 Agustus 2023 | 22:01 WIB
BERKABUT: Suasana Nepal Van Java di Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik saat musim hujan kerap dipenuhi kabut tebal. (Naila Nihayah/Radar Jogja)
BERKABUT: Suasana Nepal Van Java di Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik saat musim hujan kerap dipenuhi kabut tebal. (Naila Nihayah/Radar Jogja)

 


MUNGKID - Baru-baru ini, beredar video yang memperlihatkan rombongan mobil dengan pelat D dicegat oleh beberapa warga lokal saat hendak ke Nepal Van Java, Kabupaten Magelang. Adapun video tersebut dibagikan di akun TikTok milik @ciwindi pada Minggu (27/8). Rombongan yang berjumlah enam orang itu dipaksa untuk menggunakan jasa ojek saja.

Para warga lokal itu berdalih jika mobil tidak kuat menanjak hingga ke atas dan lahan parkirnya penuh. Rombongan itu pun diminta membayar Rp 40 ribu per orang pulang-pergi untuk sampai ke destinasi wisata Nepal Van Java di Dusun Butuh, Temanggung, Kaliangkrik.

Hanya saja, mereka enggan membayarnya dan tetap berada di dalam mobil. Kemudian, mereka melakukan negosiasi dengan harga Rp 25 ribu per orang. Karena memang sedari awal rombongan tersebut tidak berniat menggunakan jasa ojek, akhirnya sang sopir terus melajukan mobilnya. Bahkan, dia berhasil membawa mobil itu sampai di tempat parkir kawasan Nepal Van Java.

Menyikapi video yang telah beredar tersebut, pengelola Nepal Van Java Lilik Setiyawan buka suara. Dia menegaskan, ojek itu tidak resmi dari Nepal Van Java. "Mohon maaf atas ketidaknyamanan situasi ini. Perlu diketahui, bahwa kejadian seperti video itu bukan dari kami, pengelola wisata Nepal Van Java. Khususnya  pelaku usaha ojek resmi," ujarnya, Selasa (29/8).

Lilik bersama para warga juga kerap membahas terkait keluh kesah wisatawan saat dicegat ojek. Karena kejadian itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali saja. Tapi selalu saja terulang. Modusnya pun sama. Yakni, memberi tahu pada wisatawan jika lahan parkir mobil di Nepal Van Java penuh.

Selain itu, karena medan jalan yang menanjak, mereka memberi tahu bawah mobil tidak akan kuat hingga sampai ke kawasan Nepal Van Java. Jika informasi yang disampaikan tersebut benar dan wisatawan benar-benar membutuhkan ojek, Lilik tidak masalah. Itupun dengan harga yang wajar atau sudah ditentukan.

Lilik menyebut, kejadian ini dalam tahap pembahasan kembali oleh semua pihak yang terlibat dari instansi terkait. "Ini demi menjaga nama baik dan kelangsungan wisata yang nyaman serta berkelanjutan. Termasuk dapat memberi manfaat semua lapisan masyarakat," paparnya.

Sementara itu, Camat Kaliangkrik Suparyanto membenarkan adanya oknum yang dinilai kurang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan pariwisata di Dusun Butuh.

"Setelah kami mintakan informasi terhadap pengelola Nepal Van Java bahwa adanya praktik ojek yang di luar pengelola, memang terjadi di area bawah," sebutnya.

Suparyanto menyebut, para warga yang menawarkan jasa ojeknya, kebanyakan menyasar wisatawan dengan pelat nomor luar daerah. Karena mereka meyakini, wisatawan itu belum pernah melewati medan tersebut dan belum mengetahui betul seluk beluk kawasan Nepal Van Java. Sehingga tingkat keberhasilan bujukannya akan lebih tinggi.

Dia juga meminta kepada pengelola agar segera dikomunikasikan dan diselesaikan secara internal. Pemerintah kecamatan sebetulnya sudah menawarkan untuk membantu mediasi kedua kelompok tersebut. Namun, dari pengelola akan melaksanakan upaya penyelesaian sendiri. Berdasarkan informasi yang diterima, permasalahan itu sudah diselesaikan oleh pengelola.

Dia menyebut, pengelola Nepal Van Java juga telah memberikan klarifikasi di media sosial terkait dengan kejadian tersebut. Dia berharap, ini menjadi pembelajaran bagi seluruh warga di sekitar Nepal Van Java.

"Jika, aksi yang seperti kemarin masih terus dilakukan, tentu akan merugikan warga di Dusun Butuh dan sekitarnya. Termasuk di Kabupaten Magelang," jelas dia.

Ke depan, pemerintah kecamatan hingga instansi terkait akan terus memantau pengelolaan pariwisata di wilayahnya. Khususnya, Nepal Van Java. (aya)

Editor : Amin Surachmad
#Kabupaten Magelang #Nepal Van Java #destinasi wisata