Secara garis besar, sistem 4-day workweek berarti pekerja bekerja empat hari dalam seminggu dengan total jam kerja yang biasanya dipadatkan atau dikurangi secara proporsional, namun tetap menerima gaji yang sama.
Pendekatan ini bertujuan meningkatkan efisiensi, mengurangi stres, dan memberi ruang bagi pekerja untuk memulihkan energi tanpa mengurangi output kerja yang diharapkan.
Percobaan empat hari kerja telah dilakukan di berbagai negara seperti Inggris, Skotlandia, Amerika Serikat, Kanada, Australia, Irlandia, dan Selandia Baru.
4 Day Week Global, sebuah organisasi advokasi, mencatat bahwa percobaan yang melibatkan hampir 2.900 pekerja di 141 organisasi menunjukkan hasil menarik: karyawan melaporkan penurunan burnout sebanyak 67%, perbaikan kesehatan mental 41%, dan kualitas tidur 38% lebih baik setelah enam bulan menjalankan jadwal kerja empat hari tanpa kehilangan pendapatan yang sama.
Baca Juga: Dulu Dianggap Mistis, Kini Praktik Hipnoterapi Diakui Ilmiah dan Disertifikasi di UGM
Sementara itu, lebih dari setengah pekerja merasa produktivitasnya justru meningkat dibanding ketika bekerja lima hari seminggu.
Negara lain seperti Skotlandia juga menunjukkan hasil positif dalam uji coba pemerintahnya, di mana dua lembaga publik yang menerapkan model ini mencatat penurunan cuti sakit karena stres sebesar 25% sambil mempertahankan kualitas pelayanan publik.
Ini menandakan bahwa pengurangan hari kerja tidak otomatis berarti menurunnya kinerja, bila organisasi mampu mengatur flow kerja secara efisien.
Dalam kajian ilmiah berjudul Work time reduction via a 4-day workweek finds improvements in workers’ well-being (2025), para peneliti mengamati efek pengurangan hari kerja pada kesehatan pekerja di berbagai negara termasuk Australia, Kanada, Irlandia, Inggris, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.
Hasilnya menunjukkan bahwa walau jam kerja berkurang, pekerja melaporkan peningkatan kesejahteraan mental dan fisik, pengurangan kelelahan, serta kemampuan kerja yang lebih baik setelah restrukturisasi kerja.
Namun demikian, adopsi empat hari kerja bukan tanpa tantangan. Tidak semua sektor cocok untuk model ini, terutama di industri yang memerlukan kehadiran fisik terus-menerus seperti layanan kesehatan, logistik, atau manufaktur.
Tantangan lain termasuk redistribusi jam kerja, pengaturan jadwal shift, dan kesiapan budaya organisasi untuk perubahan besar dalam manajemen waktu.
Meski demikian, popularitas model kerja empat hari semakin meningkat di tengah kebutuhan pekerja akan keseimbangan kerja-kehidupan yang lebih baik.
Baca Juga: Mengenal El Nino dan La Nina: Dampaknya bagi Cuaca Global dan Indonesia
Di beberapa negara Eropa, legislasi bahkan mulai mengakomodasi fleksibilitas jam kerja, sementara perusahaan teknologi memanfaatkan kecanggihan alat digital dan otomatisasi untuk mempertahankan output dengan jam kerja yang lebih pendek.
Tren ini menunjukkan bahwa budaya kerja global tidak lagi terikat pada tradisi lama, tetapi terus berevolusi sesuai tuntutan zaman.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.