WASHINGTON - Presiden AS Donald Trump gerak cepat tangani lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Israel vs Iran – IEA ikut lepas 400 juta barel, Indonesia pantau dampak ke Pertalite & Solar.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi memerintahkan pelepasan 172 juta barel minyak mentah dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) atau cadangan minyak strategis AS. Keputusan ini diumumkan pada 11 Maret 2026 dan mulai berlaku pekan depan selama kurang lebih 4 bulan (120 hari).
Menurut pernyataan resmi Departemen Energi AS (DOE) dan postingan jurnalis independen Nick Sortor di platform X, langkah ini bertujuan mencegah lonjakan harga BBM di Amerika dan dunia akibat gangguan pasokan minyak global yang dipicu perang AS-Israel melawan Iran sejak akhir Februari 2026.
“Trump menggunakan cadangan minyak untuk tujuan sebenarnya: mencegah negara musuh memeras kita lewat harga minyak,” tulis Nick Sortor mengutip pernyataan Trump. Ia juga menyinggung pelepasan cadangan era Biden tahun 2022 yang dinilai lebih bersifat politik jelang pemilu.
Pelepasan 172 juta barel AS ini menjadi bagian dari koordinasi besar-besaran International Energy Agency (IEA) yang melibatkan 32 negara anggota. Total cadangan darurat yang dilepas mencapai 400 juta barel — rekor terbesar sepanjang sejarah IEA, melampaui pelepasan 182 juta barel saat invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022.
Trump sendiri menyatakan di sebuah acara di Kentucky bahwa keputusan IEA ini akan “secara signifikan menurunkan harga minyak” sambil menegaskan “kita harus menyelesaikan pekerjaan” melawan Iran.
Dampak ke Harga Minyak & BBM Indonesia
Harga minyak Brent sempat melonjak hingga mendekati $120 per barel akibat ketegangan di Selat Hormuz, namun mulai mereda setelah pengumuman pelepasan cadangan ini. Pelepasan besar-besaran diperkirakan menstabilkan pasar dalam jangka pendek, meski AS sendiri hanya mengimpor sangat sedikit minyak dari Iran.
Bagi Indonesia, keputusan ini penting karena fluktuasi harga minyak dunia langsung berdampak pada harga Pertalite, Solar, Pertamax, hingga avtur. Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Pertamina disebut-sebut terus memantau situasi untuk menjaga stabilitas harga BBM dalam negeri di tengah tekanan subsidi energi.
Konteks Perang & Cadangan Minyak AS
Konflik yang dimulai akhir Februari 2026 telah membuat harga minyak dunia bergejolak. Meski cadangan SPR AS saat ini sekitar 415–416 juta barel (dari kapasitas maksimal 714 juta barel), pelepasan 172 juta barel ini setara dengan sekitar 8–10 hari konsumsi domestik AS — cukup untuk meredam gejolak jangka pendek.
Trump menjanjikan pengisian ulang cadangan hingga 200 juta barel dalam setahun ke depan setelah situasi stabil.
Apa Artinya Bagi Kita di Indonesia? Harga BBM global berpotensi turun dalam 1–2 bulan ke depan jika pasokan stabil.
Namun jika perang berlarut-larut atau Selat Hormuz terganggu lebih parah, tekanan harga bisa kembali naik. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin