Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Putri Presiden Korea Utara, Kim Ju Ae, Disebut Masuk Tahap Penunjukan Internal sebagai Penerus: Dinasti Kim Berpotensi Masuk Generasi Keempat

Magang Radar Jogja • Jumat, 13 Februari 2026 | 17:06 WIB
Kim Jong Un bersama putrinya Kim Ju Ae.
Kim Jong Un bersama putrinya Kim Ju Ae.

RADAR JOGJA - Presiden Korea Utara, Kim Jong Un, kini dikabarkan tengah serius menyiapkan putrinya, Kim Ju Ae, sebagai penerus kekuasaan.

Melansir ABC News, Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) menyatakan bahwa Kim Ju Ae bukan lagi sekadar dalam proses belajar sebagai calon suksesor, tetapi sudah masuk di tahap ditunjuk secara internal.

Jika benar, langkah ini akan memperpanjang kekuasaan keluarga Kim hingga generasi keempat dalam sejarah Korea Utara.

Nama Kim Ju Ae sendiri bukan langsung dikenal lewat media resmi Korea Utara.

Sosoknya pertama kali disebut oleh legenda basket Amerika, Dennis Rodman, pada 2013.

Saat itu, Rodman mengaku sempat menggendong “Baby Ju Ae” ketika berkunjung ke Pyongyang.

Namun, setelah pengakuan itu, publik hampir tidak mendapat informasi apa pun tentang dirinya selama bertahun-tahun.

Identitasnya pun masih menyisakan tanda tanya, termasuk soal apakah Kim Ju Ae adalah nama aslinya.

Kemunculan resmi Kim Ju Ae baru terjadi pada November 2022.

Media pemerintah Korea Utara menampilkan dirinya mendampingi sang ayah saat inspeksi uji coba rudal balistik antarbenua.

Momen itu langsung menarik perhatian dunia. Sejak saat itu, kehadirannya di berbagai acara penting semakin sering dan semakin menonjol.

Ia terlihat dalam parade militer, uji coba persenjataan, hingga peresmian fasilitas industri.

Perannya bukan lagi sekadar anak yang ikut mendampingi, tetapi figur yang diposisikan dekat dengan pusat kekuasaan.

Tak hanya tampil di dalam negeri, Kim Ju Ae juga ikut dalam kunjungan diplomatik penting.

Tahun lalu, ia mendampingi ayahnya ke Beijing untuk bertemu Presiden China, Xi Jinping.

Kehadirannya dalam pertemuan tingkat tinggi seperti itu dinilai banyak analis sebagai sinyal kuat bahwa ia sedang diperkenalkan bukan hanya kepada rakyat Korea Utara, tetapi juga kepada dunia internasional.

Media pemerintah Korea Utara bahkan menggunakan istilah-istilah terhormat untuk menyebutnya, seperti “anak tercinta” dan “hyangdo”.

Dalam konteks politik Korea Utara, istilah tersebut biasanya digunakan untuk pemimpin atau calon penerus resmi.

Ini bukan sekadar pujian biasa. Dalam sistem yang sangat simbolik seperti Korea Utara, pilihan kata punya makna politik yang besar.

Langkah simbolis lain yang dinilai sangat penting adalah kunjungan Kim Ju Ae ke Kumsusan Palace of the Sun, mausoleum tempat jasad kakek serta buyutnya diawetkan dan dipajang untuk penghormatan publik.

Tempat itu bukan sekadar lokasi memorial, tetapi simbol legitimasi dinasti Kim.

Dengan memperlihatkan Kim Ju Ae berdiri di ruang sejarah itu, pesan yang ingin disampaikan terlihat jelas bahwa ia adalah bagian dari garis keturunan yang sah.

Melansir Sky News, menurut anggota parlemen Korea Selatan yang menerima pengarahan tertutup dari NIS, Kim Ju Ae kini diperlakukan sebagai pemimpin nomor dua secara de facto.

Artinya, walau belum ada pengumuman resmi, peran dan posisinya sudah mulai dibangun dari dalam.

Perubahan istilah yang digunakan intelijen, dari dipelajari sebagai suksesor menjadi ditunjuk secara internal, dianggap sebagai perkembangan besar dalam peta politik Korea Utara.

Meski demikian, masih ada sejumlah pertanyaan. Usianya diperkirakan sekitar 13 tahun.

Dalam aturan Partai Buruh Korea utara, anggota resmi harus berusia minimal 18 tahun.

Ini membuat banyak analis bertanya-tanya apakah ia akan langsung diberi jabatan formal atau hanya diperkuat secara simbolik terlebih dahulu.

Ada spekulasi bahwa kongres partai yang akan digelar dalam waktu dekat bisa menjadi panggung penting untuk mengumumkan atau mengisyaratkan rencana suksesi tersebut.

Beberapa pengamat juga menyoroti faktor budaya.

Korea Utara dikenal sebagai masyarakat yang sangat patriarkal dan maskulin.

Namun, dalam konteks dinasti Kim, garis keturunan dinilai lebih penting daripada jenis kelamin.

Selama berasal dari keluarga inti Kim, peluang untuk menjadi penerus tetap terbuka.

Apalagi Kim Jong Un sendiri pernah mengalami proses suksesi yang relatif mendadak setelah ayahnya, Kim Jong Il, mengalami stroke dan kemudian wafat pada 2011.

Pengalaman itu mungkin membuatnya ingin mempersiapkan penerus lebih awal.

Meski tanda-tandanya semakin kuat, para analis tetap berhati-hati.

Dalam sistem politik yang sangat tertutup seperti Korea Utara, keputusan akhir hanya diketahui oleh lingkaran elite di Pyongyang.

Bisa saja rencana berubah, atau pengumuman dilakukan secara sangat halus melalui simbol dan narasi propaganda, bukan lewat deklarasi resmi.

Untuk saat ini, dunia hanya bisa membaca sinyal. Namun, jika Kim Ju Ae benar-benar dikukuhkan sebagai penerus, untuk pertama kalinya seorang perempuan dari dinasti Kim berpotensi memimpin negara yang selama ini dikenal keras, tertutup, dan sangat militeristik. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#korea utara #Internal #kim jong un #Putri Presiden Korea Utara #generasi keempat #Dinasti Kim #Kim Ju Ae