RADAR JOGJA - Israel melancarkan serangan udara ke markas kepemimpinan politik Hamas di distrik diplomatik Doha, Qatar, pada Selasa (9/9/2025) siang, ketika para pemimpin sedang mempertimbangkan usulan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Dikutip dari laporan AP News Selasa (9/9), Hamas menyatakan bahwa pemimpin senior berhasil selamat, namun lima anggota tingkat bawah, termasuk anak Khalil Al-Hayya, seorang kepala staf, dan tiga pengawal, tewas dalam serangan tersebut.
Seorang perwira keamanan Qatar juga dilaporkan menjadi korban jiwa.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi tanggung jawab penuh negaranya atas operasi itu.
“Operasi ini direncanakan dan dilaksanakan oleh Israel, sepenuhnya di bawah tanggung jawab kami,” kata Netanyahu seperti dikutip Reuters.
Qatar mengecam keras serangan itu.
Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani menyebutnya sebagai “tindakan terorisme negara” dan menegaskan bahwa peran mediasi Qatar tidak akan terhentikan.
Kecaman juga datang dari dunia internasional. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menilai serangan ini sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Qatar.
Turki dan Uni Emirat Arab menyebut tindakan Israel sebagai agresi brutal, sementara Prancis dan Inggris menilai langkah tersebut berisiko memperburuk ketegangan kawasan.
Dari Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut serangan itu sebagai “insiden yang disayangkan”.
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukan bagian dari upaya diplomasi yang sedang diusahakan.
“Itu bukan sesuatu yang kami dukung, bukan sesuatu yang kami minta, dan jelas bukan sesuatu yang akan membantu perdamaian,” ujar Trump seperti dikutip Washington Post.
Serangan ini dinilai menambah ketidakpastian pada proses diplomasi internasional yang tengah berusaha mengakhiri perang di Gaza. (Maulina)