RADAR JOGJA - Konvoi Palang Merah China yang membawa bantuan ke wilayah terdampak gempa di Myanmar menjadi sasaran tembakan militer, pada Selasa (1/4) malam.
Insiden ini terjadi di Kotapraja Naung Cho, Negara Bagian Shan, ketika rombongan sedang dalam perjalanan menuju Mandalay.
Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang (TNLA) menuduh pasukan junta menyerang konvoi dengan senjata berat.
Namun, pihak junta memberikan penjelasan berbeda.
Juru bicara militer Myanmar, Mayor Jenderal Zaw Min Tun, menyatakan bahwa mereka hanya melepaskan tembakan peringatan karena konvoi tidak memiliki izin resmi dan menolak berhenti saat diminta.
"Kami mencoba menghentikan mereka, tetapi mereka tidak mengindahkan perintah. Akhirnya, kami menembakkan tembakan peringatan dari jarak sekitar 100 meter, dan mereka melarikan diri kembali ke Nawnghkio," ujar Zaw Min Tun.
Serangan ini menuai kritik dari berbagai pihak, terutama karena konvoi tersebut membawa bantuan kemanusiaan bagi korban bencana.
Sampai saat ini, belum ada laporan mengenai korban luka atau jiwa akibat insiden ini.
Pemerintah Myanmar menyatakan akan melakukan penyelidikan untuk memahami lebih jelas kronologi kejadian.
Situasi di Myanmar semakin memanas dengan meningkatnya bentrokan antara junta militer dan kelompok bersenjata lokal.
Peristiwa ini juga berpotensi merusak hubungan Myanmar dengan China, yang selama ini dikenal sebagai sekutu utama junta.
Masyarakat internasional kini menyoroti peristiwa ini dan menunggu respons lebih lanjut dari pemerintah Myanmar serta pihak terkait untuk mengatasi konflik yang semakin memburuk.
Penulis: Samil Ngirfan Al Makki
Editor : Bahana.