Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dampak Hujan dan Perubahan Iklim di Spanyol Membawa Petaka, Setidaknya 158 Orang Ditemukan Tewas

Meitika Candra Lantiva • Senin, 4 November 2024 | 17:58 WIB
Banjir dahsyat menyapu mobil-mobil warga di wilayah Spanyol.
Banjir dahsyat menyapu mobil-mobil warga di wilayah Spanyol.

RADAR JOGJA – Setidaknya 158 orang tewas dalam bencana banjir yang menjadi terburuk di Spanyol pada Jumat (1/11/2024).

Lebih dari 1.200 pekerja dibantu oleh pesawat tak berawak, dikerahkan ke misi penyelamatan meskipun hujan terus mengancam beberapa wilayah negara itu.

“Saat ini hal yang paling penting adalah menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa,” Perdana Menteri Pedro Sánchez menyampaikan kepada para korban saat mengunjungi masyarakat yang terkena dampak.

Banjir yang mulai melanda pada malam selasa (29/10/2024) menyebabkan warga terpaksa harus bekerja keras mengevakuasi jenazah dari lumpur dan reruntuhan hingga Jumat (1/11/2024).

Setidaknya 155 kematian tercatat di Valencia, sementara dua lainnya tercatat di Castilla-La Mancha di bagian barat provinsi tersebut, dan satu lagi yakni seorang pria Inggris di Andalusia.

Di kota Paiporta, sungai meluap dan 40 kematian telah tercatat sejauh ini.

"Kita semua tahu seseorang yang telah meninggal," kata apoteker Miguel Guerrilla, yang berdiri di luar apoteknya yang telah tertutup lumpur tebal.

Melansir dari BBC, petugas pemakaman dan mobil jenaxah mengambil jenazah dari jalan, sementaran di jalan-jalan terdekat, mobil-mobil yang tersapu gelombang badai bertumpuk satu di atas yang lainnya.

Para pengendara menceritakan kengerian mereka karena terjebak oleh gelombang pasang pada hari Selasa (29/10/2024), yang mengubah jalan raya menjadi sungai.

Pihak berwenang belum mengungkapkan jumlah orang yang masih hilang tetapi mengatakan ada "banyak", karena jumlah korban tewas bertambah sekitar 60 orang pada hari Kamis (31/10/2024).

Lebih dari 90 kematian tercatat pada hari Rabu (30/01/2024) setelah hujan lebat dan banjir bandang, yang sebagian besar berdampak pada Valencia, serta Castilla-La Mancha dan sejauh selatan Malaga.

Sementara itu di daerah yang terkena banjir, ratusan orang berlindung di akomodasi sementara dan memulai tugas yang lambat dan sulit untuk membersihkan jalan serta memulihkan rumah dan bisnis.

Kemarahan publik meningkat karena sebuah negara maju seperti Eropa tampak gagal dalam mengantisipasi tentang bahaya banjir.

Hal tersebut merupakan respons publik terhadap layanan manajemen bencana yang mengeluarkan peringatan terlalu lambat.

Badan perlindungan sipil, yang dikerahkan selama bencana nasional, baru mengeluarkan peringatan pukul 20.15 WIB pada Selasa (29/10/2024) malam waktu setempat, saat itu beberapa tempat di Valencia telah terendam banjir selama berjam-jam.

Peneliti cuaca telah mengidentifikasi kemungkinan penyebab utama hujan lebat tersebut sebagai “gota fria” – fenomena cuaca alami yang melanda Spanyol pada musim gugur dan dingin ketika udara dingin turun ke perairan hangat di atas Laut Tengah.

Menurut Dr Friederike Otto, ilmuan dari Imperial College London, peningkatan suhu global telah menyebabkan awan membawa lebih banyak hujan dan diperparah oleh perubahan iklim.

Sementara jumlah korban tewas akibat banjir di Spanyol ini adalah yang terburuk sejak tahun 1973, ketika sedikitnya 150 orang diperkirakan tewas di provinsi tenggara Granada, Murcia, dan Almeria. (Yasminun Ardine Issudibyo)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Tewas #Perubahan Iklim #spanyol #Banjir #Bencana #petaka #Dampak Hujan #ratusan orang