Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hassan Nasrallah Tewas dalam Serangan Udara Israel: Masa Depan Hizbullah Dipertanyakan, Serangan Balasan Melemah dalam Dua Pekan Terakhir

Izzatul Akmal Fikri • Selasa, 1 Oktober 2024 | 22:33 WIB
Demonstrasi warga Lebanon setelah kematian Hassan Nasrallah, Sekretaris jenderal Hizbullah.
Demonstrasi warga Lebanon setelah kematian Hassan Nasrallah, Sekretaris jenderal Hizbullah.

RADAR JOGJA - Serangan udara Israel yang dilancarkan pada Jumat (27/9/2024) lalu dikabarkan telah menewaskan Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah yang selama lebih dari tiga dekade menjadi ikon milisi Lebanon tersebut.

Kematian Nasrallah disebut sebagai pukulan besar bagi Hizbullah, yang selama ini menjadikannya sebagai otak di balik berbagai serangan dan negosiasi politik.

Peran karismatiknya juga mempersatukan anggota kelompok milisi tersebut dengan pidato-pidatonya yang kerap menyuarakan perjuangan melawan Israel.

Pertanyaan besar kini muncul di kalangan pengamat internasional, mengenai bagaimana Hizbullah akan merespons kematian pemimpin mereka dan apakah mereka masih memiliki kemampuan untuk membalas serangan Israel.

Israel sendiri sudah lama menganggap Nasrallah sebagai ancaman keamanan utama, bukan hanya karena perannya sebagai pemimpin milisi, tetapi juga karena kecerdikannya dalam merencanakan serangan terhadap negara Zionis tersebut.

Militer Israel mengklaim bahwa eskalasi serangan mereka dalam beberapa pekan terakhir bertujuan untuk menghancurkan infrastruktur Hizbullah.

Mereka berharap, dengan serangan tersebut, tidak perlu lagi mengirimkan pasukan darat untuk menyerang Lebanon demi melemahkan kekuatan milisi itu.

Sumber dari New York Times juga melaporkan bahwa dengan tewasnya Nasrallah, Hizbullah kehilangan sosok pemimpin yang memiliki pengalaman dan pengaruh sekuat dirinya.

Namun, meskipun kematian Nasrallah adalah kerugian besar bagi Hizbullah, beberapa pejabat Amerika Serikat memperingatkan bahwa kelompok ini tidak bisa dianggap remeh.

Situasi serupa pernah terjadi di Gaza, di mana serangan Israel selama 11 bulan belum berhasil mengalahkan milisi yang didukung Iran.

Seorang pejabat AS menyebut Hizbullah sebagai "kakak besar" bagi Hamas, dan teknik perlawanan seperti jaringan terowongan bawah tanah telah dipelajari oleh Hamas dari Hizbullah.

Di Lebanon, Israel juga menyerang jaringan terowongan Hizbullah dengan serangan artileri. Namun, kondisi geografis Lebanon yang bergunung-gunung membuatnya lebih sulit bagi militer Israel untuk menghancurkan infrastruktur tersebut.

Dana Stroul, mantan Wakil Asisten Sekretaris Pentagon untuk Timur Tengah menyebut, Hizbullah bahkan mampu mengebor bebatuan untuk menyembunyikan fasilitas mereka.

Mantan Komandan Direktur Operasi Militer Israel Yaacov Ayish mengatakan, terowongan yang ditemukan di Lebanon selatan memiliki kedalaman hingga 65 yard di bawah tanah dan menghancurkan terowongan ini memerlukan operasi yang sangat kompleks.

Serangan Hizbullah terhadap Israel sebenarnya sudah dimulai sebelum agresi Israel di Gaza pada Oktober lalu.

Hizbullah yang dianggap sebagai salah satu pasukan non-negara dengan peralatan terbaik di dunia, memiliki ribuan pejuang dan persenjataan modern, termasuk rudal berpemandu presisi dan pesawat nirawak.

Namun, dalam dua pekan terakhir, serangan balasan Hizbullah disebut melemah, karena Israel berhasil menekan kemampuan milisi ini dengan menghancurkan persediaan mereka dan mengganggu akses komunikasi.

Meskipun Hizbullah masih memiliki peralatan militer canggih, mereka belum menemukan pemimpin yang bisa menggantikan posisi Nasrallah.

Beberapa spekulasi di Lebanon menyebut bahwa Hashem Safieddine, sepupu Nasrallah, kemungkinan akan menjadi penggantinya, meskipun rumor ini belum dikonfirmasi.

Para pengamat juga memperkirakan bahwa kematian Nasrallah bisa memicu Hizbullah untuk mengambil langkah yang lebih agresif dalam pertempuran melawan Israel.

Namun, hingga saat ini, langkah strategis Hizbullah dan Iran masih menjadi tanda tanya besar.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#lebanon #Serangan Udara Israel #Hassan Nasrallah #Agresi Israel #hizbullah #agresi israel ke lebanon