KULON PROGO - Keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA) berperan dalam peredaran narkoba di DIJ. Hal ini, semakin memantapkan Bumi Binangun menjadi salah satu gerbang masuk peredaran barang haram itu.
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIJ Brigjen Pol. Andi Fairan menyampaikan, skala peredaran narkoba di DIJ sudah menyamai kota besar seperti Jabodetabek, Surabaya, ataupun Bandung.
Salah satu pemantiknya, adalah keberadaan bandara sebagai akses masuk narkotika. "Buktinya kemarin ada narkoba masuk dari YIA," ucap Andi, saat mengisi kegiatan sosialisasi di Balai Kalurahan Wahyuharjo, Lendah, Selasa (29/7).
Andi menyampaikan, seminggu lalu peredaran narkoba melalui YIA berhasil digagalkan aparat penegak hukum. Kejadian itu, menjadi tolok ukur peredaran narkoba di wilayah DIJ yang kian masif.
Lantaran, barang bukti yang disita berjenis sabu-sabu. Selama ini, peredaran sabu masih tergolong kecil di DIJ. Dengan temuan itu memastikan DIJ menjadi daerah target peredaran. Hal ini juga diperparah dengan target pengedaran narkoba yang menyasar mahasiswa di DIJ.
Kian masifnya peredaran narkoba di DIJ juga ditambah dengan rentetan kejadian selama setahun terakhir. Dua asrama mahasiswa yang menjadi tempat civitas akademika justru ikut menjadi pasar narkoba. "Pengakuan pelaku menunjukkan, kampus dan asrama menjadi pasar baru peredaran narkoba," ujarnya.
Andi menyampaikan, temuan narkoba di lingkungan akademisi semakin memantapkan posisi pengguna narkoba pada mahasiswa di urutan nomor tiga setelah wiraswasta dan dewasa. Pasar narkoba di lingkup mahasiswa memang terlihat kecil, karena mahalnya barang haram itu.
Akan tetapi, munculnya modus baru penggunaan narkoba justru semakin mendekatkan mahasiswa pada narkoba. Temuan BNNP DIJ, narkoba kini dipersolek menjadi cairan liquid rokok elektrik yang digandrungi kalangan muda.
Ada juga ganja yang telah dimodifikasi dalam bentuk mentega agar bisa mudah melewati keamanan. "Paling utama, menggencarkan sosialisasi sekaligus penegakan peraturan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Bowo Pristianto membenarkan, dampak keberadaan bandara. Mau tak mau, bandara menjadi salah satu unsur peredaran narkoba. Dalam kondisi ini, pemkab Kulon Progo perlu bekerja keras dalam menanggulangi peredaran narkoba.
"Apalagi ditambah media sosial, mulai dari remaja hingga dewasa bisa mengakses semua informasi," ujarnya.
Bowo menjelaskan, peredaran narkoba juga dipicu kemudahan informasi yang didapat dari media sosial. Maraknya peredaran obat berbahaya di kalangan pelajar Bumi Binangun, terjadi akibat pembelian melalui platform media sosial. Keadaan ini membuat pihaknya perlu menggencarkan sosialisasi untuk mencegah peredaran narkoba. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo