MAGELANG - Bentrokan pecah di Kampung Tuguran RT 4/RW 6, Potrobangsan, Magelang Utara, Kota Magelang pada Rabu (24/4/2024) sekitar pukul 00.00.
Dari video yang beredar, dua kelompok tampak mengacungkan senjata tajam (sajam).
Akibatnya, kaca jendela rumah warga pecah terkena sabetan celurit.
Warga Tuguran Bana Fauzi, 39 menuturkan, bentrokan tersebut terjadi sekitar pukul 00.00, yang mana sebagian besar warga sudah terlelap.
"Kejadiannya sangat mendadak. Apalagi terjadi pukul 12 malam, posisi warga sebagian sudah tidur," bebernya saat ditemui, Rabu (24/4/2024).
Tiba-tiba, kata dia, ada segerombolan orang mengendarai motor melintas di wilayahnya sembari membunyikan klakson dan berteriak.
Dia yang saat itu sudah terlelap, lantas bangun karena mendengar hal tersebut.
Hanya saja, dia tidak berani keluar rumah dan hanya mengintip dari celah jendela.
Lantaran dia melihat sebagian pelaku bentrokan, membawa sajam berupa celurit panjang.
Baca Juga: Kisah Langka! Wanita Punjab Melahirkan Bayi Kembar Enam 4 Laki-laki dan 2 Perempuan
"(Mereka) lempar-lemparan botol kaca sama bawa celurit panjang," sebutnya.
Fauzi menyebut, bentrokan itu hanya berlangsung sekitar 10-15 menit.
Namun, kaca jendela rumah saudaranya pecah dan diduga akibat sabetan celurit. Dia bersama warga pun turut membersihkan pecahannya.
Warga juga sempat menghubungi kepolisian. Namun, para pelaku membubarkan diri sebelum polisi datang.
Dari informasi yang didapat, ada seorang pelaku yang luka akibat lemparan botol.
Baca Juga: Bocah Kelas I SD Mengemudikan Mobil Pameran Hingga Berujung Hantam Tembok Mall MOI Kelapa Gading
"Kemungkinan orang luar. Bukan (warga) daerah situ. Sekarang masih lidik," bebernya.
Ditemui terpisah, Wali Kota Magelang Muchamad Nur Aziz menyayangkan kejadian tersebut.
Dia menyebut, bentrokan itu baru kali pertama terjadi di Tuguran.
"Nanti dicari tahu penyebabnya apa. Orang tuanya dipanggil. Ada apa. Kok tiba-tiba ada serangan seperti itu," ungkapnya.
Dia menyebut, sebetulnya tawuran yang menyebabkan bentrok antarkelompok sudah terjadi sejak lama.
Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, kata dia, cukup kompleks.
Karena harus mencari akar permasalahannya terlebih dahulu.
Aziz mengatakan, untuk mengantisipasi hal tersebut, orang tua harus lebih mengawasi aktivitas anaknya.
Termasuk mengajarkan etika kepada anak.
"Persoalannya kemungkinan berasal dari rumah, keluarga. Sehingga rumah harus benar-benar layak dihuni," katanya.
Saat disinggung terkait pembentukan Peraturan Daerah (Perda) jam malam bagi pelajar, lanjut dia, masih membutuhkan kajian lebih dalam.
Aziz pun mendukung agar perda tersebut segera dibuat. Supaya anak-anak tidak berkeliaran melebihi pukul 22.00.
"Sejak dulu (tawuran) sudah ada. Cuma saya kaget, kok di Tuguran. Yang penting kita prepare jangan sampai terjadi lagi. Soal ide Perda, sejak dulu sudah saya dukung, prosesnya sampai mana, belum tahu. Biasanya kerja sama dengan Kesbangpol, Disporapar, dan Disdikbud," imbuhnya. (aya)
Editor : Bahana.