GUNUNGKIDUL- Pantai Baron Gunungkidul memiliki wajah baru yang berbeda dari pemandangan biasanya.
Pantai Baron serasa lebih luas, karena gugusan pasir yang selama 14 tahun menjadi ciri khas di kawasan Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, hilang akibat abrasi.
Musim kemarau panjang dan dinamika gelombang tinggi menyebabkan aliran sungai bawah tanah kembali bergeser.
Baca Juga: Atletico Madrid Ingin Jual ke Arsenal Namun Julian Alvarez Hanya Ingin Barcelona
Perubahan ini terjadi pada Kamis (20/8/2026).
Aliran sungai bawah tanah yang selama ini bergerak dari barat ke timur kini mengarah ke utara dan langsung menuju laut melalui sisi barat Pantai Baron.
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Pantai Baron Marjono mengatakan, gugusan tersebut terbentuk seiring perubahan arah aliran sungai bawah tanah pada 2012.
Selama 14 tahun, aliran bergerak ke timur dan membentuk gugusan pasir yang menyerupai pulau.
Baca Juga: Maarten Paes Kembali Diparkir saat Ajax Bangkit untuk Taklukkan Sion di Conference League
“Aliran yang mengarah langsung ke laut terakhir terjadi pada 2012. Setelah itu aliran berubah menuju timur dan kondisi tersebut bertahan selama 14 tahun hingga kembali berubah pada Kamis (20/8/2026),” kata Marjono, Jumat (21/8/2026).
Menurut dia, perubahan aliran sungai bawah tanah merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di Pantai Baron.
Namun, durasi bertahannya aliran kali ini menjadi yang paling lama dibandingkan perubahan sebelumnya.
“Biasanya hanya dua atau tiga tahun terjadi perubahan, tapi saat ini perubahan aliran terjadi dalam kurun waktu 14 tahun,” ujarnya.
Baca Juga: Trabzonspor 0-1 Ferencvaros, Black Sea Storm Tumbang saat Mo Salah Jalani Debut sebagai Starter
Pantauan Radar Jogja pada Senin (17/8/2026) gugusan pasir yang menyerupai pulau tersebut masih tampak.
Namun, saat kembali dipantau pada Jumat (21/8/2026), gugusan itu sudah tidak terlihat karena tertutup pasir.
Area yang sebelumnya hanya dapat dijangkau menggunakan perahu kini bahkan bisa dilewati langsung melalui tanggul laut.
Kini air tidak lagi melewati kawasan yang selama ini membentuk gugusan tersebut.
Aliran langsung menuju laut dengan mengikuti tebing perbukitan di sisi barat Pantai Baron.
Baca Juga: Sejarah Gereja Katolik Tertua: Gereja Bintaran yang Jadi Saksi Perjuangan Kemerdekaan
Perubahan itu juga berdampak pada aktivitas wisatawan.
Pengunjung kini tidak lagi harus menyeberangi aliran sungai ketika hendak menuju area pasir di Pantai Baron.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan dan Destinasi Disparekrafpora Gunungkidul Yohanes Nanang Putranto mengatakan, perubahan tersebut merupakan bagian dari dinamika alam kawasan Pantai Baron.
“Ini terjadi karena kondisi alam dan akan selalu seperti itu. Dulu pernah ada ide untuk mengarahkan aliran air sungai, akan tetapi sepertinya alam tidak mau diarahkan oleh manusia. Aliran air dari sungai akan selalu berubah setiap saat,” kata Nanang.
Baca Juga: Saatnya Pusat Mendengar Daerah
Menurutnya, Pantai Baron dalam Perda Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Riparda) Gunungkidul memiliki keunggulan sebagai kawasan wisata yang didukung aktivitas kuliner.
“Fenomena alam tersebut bisa menjadi daya tarik tersendiri, akan tetapi biasanya hanya terjadi tidak terlalu lama,” ujarnya.
Kepala Disparekrafpora Gunungkidul Hary Sukmono mengatakan, fenomena tersebut dapat dikembangkan sebagai wisata edukasi.
“Sebagai daya tarik wisata alam, ini bisa dikemas sebagai wisata edukasi sebagai salah satu karakteristik fenomena kawasan karst dengan sistem sungai bawah tanahnya. Apapun aktivitas pariwisata tetap memperhatikan kearifan alam dan keselamatan pengunjung,” kata Hary. (cr1)
Editor : Meitika Candra Lantiva